pages

Senin, 18 Desember 2017

KONSEP DAN LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH

A.    Sistematika Dalam Penulisan Karya Ilmiah

Dalam menuliskan bagian-bagian karangan ilmiah, sering kali terdapat kegamangan bagi para penulis pemula dalam mengungkapkan gagasan pada setiap bagian karangan ilmiah. Marilah kita diskusikan langkah-langkah atau cara penulisan setiap bagian karya tulis ilmiah.
Pada umumnya struktur karangan ilmiah terdiri atas tiga bagian. Bagian yang dimaksud adalah: (1) bagian pendahulu karangan yang menyajikan latar belakang masalah penulisan atau kajian, diikuti oleh bagian permasalahan atau rumusan masalah, dan  menyajikan maksud dan tujuan kajian dan penulisan, (2) bagian isi karangan yang merupakan pernyataan dan pengembangan gagasan utama, bagian ini merupakan bagian karangan yang sesungguhnya karena selain berisi uraian pengembangan gagasan utama, juga berisi pemecahan masalah yang diungkapkan pada bagian pendahulu karangan, (3) bagian penutup karangan merupakan bagian simpulan yang harus memagut gagasan utama yang dituangkan dalam isi karangan. Simpulan dapat berupa ringkasan dari solusi yang diuraikan dalam bagian isi karangan yang disertai saran atau rekomendasi dari hasil pembahasan.
Selain ketiga bagian utama karya tulis ilmiah sebagaimana diungkapkan di atas, terdapat pula bagian pelengkap karangan ilmiah. Bagian pelengkap memiliki peranan penting pula dalam karangan ilmiah sebagai penguat gagasan yang disajikan penulis. Unsur-unsur atau bagian-bagian pelengkap karangan ilmiah terdiri atas: judul dan halaman judul, daftar isi, pendahuluan umum, tubuh uraian, ucapan terima kasih, dan pengakuan meminjam material, daftar pustaka, dan lampiran (Brotowidjojo, 1993: 99-120). Apabila diperinci kembali bagian-bagian yang terdapat dalam karya tulis ilmiah, terdapat pula bagian pendukung argument, diantaranya daftar, tabel, grafik, gambar, dan kepustakaan.

A.    Abstrak
Pada karangan Ilmiah terdapat bagian yang dinamakan Abstrak. Abstrak disajikan pada awal karangan ilmiah, sebelum bagian kata pengantar. Sebagaimana namanya, bagian ini merupakan bagian yang abstrak. Oleh karena itu penyajian bagian disajikan kata-kata dan kalimat-kalimat yang megabstraksi dari penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada bagian ini tidak digunakan data atau angka sebagai fakta, melainkan uraian abstrak tentang hasil penelitian atau kajian yang disajikan dalam tulisan.

Dalam pengertian yang sederhana, abstrak merupakan penggambaran secara maya suatu fakta. Abstrak merupakan penggambaran dengan kata-kata dari suatu fakta. Misalnya, dalam kajian diketahui bahwa kinerja para pegawai dipengaruhi oleh kesejahteraan yang diberikan suatu perusahaan. Maka, semakin baik kesejahteraan yang diberikan perusahaan, akan semakin baik pula kinerja para pegawai. Pengaruh kesejahteraan kinerja dan peningkatan kinerja pegawai tersebut tidak dapat diamati secara nyata. Oleh karena itu, sajian di muka merupakan sajian abstrak dari suatu fakta hasil kajian atau penelitian

Bagian abstrak karangan ilmiah disajikan dalam bentuk ringkas dan singkat. Bagian ini hanya terdiri atas satu halaman dan ditulis dalam satu spasi. Pada bagian ini tidak terdapat identitas penulis, karena merupakan bentuk abstrak dari penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada jenis tulisan ilmiah lain, sering digunakan kata kunci (key words) yang biasanya hanya terdiri atas tiga hingga empat kata yang esensi dari karangan ilmiah tersebut.

B.     Kata Pengantar
Dalam menuliskan karangan ilmiah, bagian kata pengantar termasuk bagian yang sering disajikan. Pada karangan ilmiah berupa artikel atau karangan ilmiah populer biasanya bagian ini diabaikan karena teknis penulisan yang berbeda, tetapi dalam karangan ilmiah yang lain bagian ini sering digunakan.
Berdasarkan hakikatnya, kata pengantar merupakan bagian yang mengantar pembaca pada isi argumen yang terdapat dalam karangan ilmiah. Dengan demikian, kata pengantar bukan hanya berisi ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang dipandang telah memberikan kontribusi pada karangan ilmiah yang disusun. Bahkan, pada karangan karya ilmiah berupa tesis dan disertasi bagian kata pengantar dan bagian ucapan terima kasih disajikan dalam dua bagian yang berbeda. Pada kata pengantar seharusnya disajikan antaran materi atau gambaran umum tentang bahasa karangan ilmiah.
Bagian kata pengantar selalu ditulis pada halaman tersendiri. Bagian ini bukan merupakan bagian karangan yang bergabung dengan bagian lain. Dalam teknis penulisannya bagian kata pengantar ilmiah selalu menempatkan pada bagian awal karangan, yang ditempatkan sebelum daftar isi. Pada akhir bagian kata pengantar, di sebelah kanan biasanya dicantumkan tempat dan tanggal serta nama penulis karangan ilmiah tersebut.
C.     Daftar isi
Bagian daftar isi dalam karangan ilmiah merupakan pemandu bagi pembaca. Daftar isi berfungsi sebagai petunjuk isi (Brotowidjojo, 1993: 106). Bagian isi berisi susunan dan urutan isi karangan ilmiah yang dilengkapi nomor halamannya. Bagian daftar isi memuat daftar seluruh bagian yang terdapat dalam karya ilmiah. Selain itu, penulisan halaman pun harus tepat sehingga bagian ini dapat berfungsi dengan baik sebagai pemandu pembaca karangan ilmiah. Pembaca karangan ilmiah akan membuka bagian yang ingin dibacanya berdasarkan halaman yang dicantumkan dalam daftar isi.
Penulisan bagian daftar isi dalam karangan ilmiah ditempatkan setelah bagian kata pengantar. Bagian ini ditulis pada halaman tersendiri, sehingga bukan merupakan kelanjutan dari bagian yang lain atau dilanjutkan oleh bagian lain. Penulisan kata dan besar kecilnya huruf dari bab dan sub bab yang dicantumkan dalam daftar isi harus sama seperti kata atau huruf yang tercantum di dalam isi karangan ilmiah. Pada beberapa contoh karya ilmiah di bagian kanan atas dari daftar isi ini menggunakan kata “halaman”, tetapi tanpa itu pun angka-angka dibagian kanan itu menunjukkan halaman dari daftar isi karangan ilmiah.
Dalam karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi selain terdapat bagian daftar isi, terdapat pula bagian daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran. Ketiga bagian ini kehadirannya bergantung pada isi karangan ilmiah tersebut. Jika pada karangan ilmiah terdapat bagian-bagian yang dimaksud, maka dicantumkan di dalam daftar tersendiri yang penempatannya setelah daftar isi. Penulisan bagian-bagian daftar tersebut sebagaimana bagian daftar isi menggunakan halaman tersendiri atau tidak digabungkan dengan bagian lainnya.
D.    Pendahuluan
Bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang mengungkapkan posisi suatu masalah dan perlunya kajian atau penelitian dilakukan. Bagian ini mengungkapkan informasi dan tentang permasalahan penelitian atau kajian. Oleh karena itu, dalam karangan ilmiah berbentuk skripsi, tesis, dan disertasi biasanya dalam bagian ini terdapat latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian atau kajian, asumsi dan hipotesis penelitian (jika penelitiannya berhipotesis), kerangka pikir penelitian atau paradigma penelitian.
Pada karangan ilmiah populer, artikel, laporan buku, atau makalah biasanya aspek-aspek diatas diungkapkan dengan tanpa menggunakan pembagian secara tegas atas aspek-aspek tersebut. Pada dasarnya, bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah menyajikan posisi masalah yang memerlukan kajian atau penelitian.
Berikut bagian bagian yang biasanya tercantum dalam pendahuluan :
1.      Latar Belakang Masalah
Aspek latar belakang masalah bagian pendahuluan biasanya deskripsi tentang kedudukan masalah tersebut. Latar belakang masalah biasanya mendeskripsikan mengapa masalah itu ada dan timbul berdasarkan analisis penulis atau mengapa suatu hal dianggap masalah oleh penulis. Latar belakang masalah merupakan paparan tentang adanya ketimpangan antara suatu ketentuan dengan kenyataan. Berdasarkan paparan tersebut, biasanya disertai  dengan mengapa masalah itu penting untuk dikaji atau diteliti,baik berimplikasi pada perkembangan ilmu atau pada kepentingan pembangunan.
Latar belakang masalah merupakan bagian masalah yang membuat penyusun gelisah dan resah jika masalah tersebut tidak dikaji atau diteliti. Pada bagian ini diungkapkan kedudukan masalah yang akan dikaji atau diteliti dan posisi masalah tersebut dalam persepektif keilmuan penyusun.
 Penyajian latar belakang dilakukan dengan cara mengkonfrontasi antara teori-teori atau konsep-konsep dengan fenomena yang terjadi. Penyajian bagian ini dapat pula dilakukan dengan mengungkap suatu ketentuan, pedoman, peraturan yang seharusnya dilaksanakan, tetapi kenyataannya tidak sehingga menimbulkan suatu masalah. Bagian ini dapat pula berupa penyajian prediksi logis terhadap sesuatu yang dianggap sebagai penyebab dari suatu fenomena yang menimbulkan masalah.
2.      Rumusan Masalah
Bagian rumusan masalah merupakan bagian yang menjelaskan permasalahan yang akan dikaji atau diteliti. Rumusan masalah dalam karangan ilmiah biasanya disajikan dalam bentuk kalimat introgatif atau kalimat tanya. Namun, pertanyaan dalam rumusan masalah misalnya “apakah atau bagaimanakah”. Apakah penyusun karangan ilmiah memandang rumusan masalah dalam penelitian yang akan dilakukan perlu diperinci kembali ke dalam bagian yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan menurunkan rumusan masalah ke dalam bagian yang lebih terperinci.
Contoh rumusan masalah:
1.      Apakah ciri-ciri penting dari suatu buku yang ditetapkan sebagai buku pelajaran yang memilki keterbacaan yang tinggi?
2.      Jenis pengukuran keterbacaaan manakah yang dapat digunakan dalam menentukan keterbacaan sutu buku pelajaran untuk sekolah dasar?
            Bagian rumusan masalah pada kajian atau penelitian yang memiliki multi variabel, biasanya penyajiannya dikaitkan dengan variabel-variabel yang akan diteliti atau dikaji dan merumuskan kaitan antar variabel yang akan dibertemalikan. Bahkan, penyusun karangan ilmiah yang cermat akan merumuskan masalah pertanyaan-pertanyaan indikator dari setiap variabel yang diteliti atau dikaji.
            Rumusan masalah dalam karangan ilmiah juga berfungsi sebagai pemandu bagi penulis untuk mencari tahu dan mencari jawaban atas masalah yang dirumuskan itu. Rumusan masalah juga dapat membimbing pembahasan dalam karya ilmiah, sehingga pengupasan fakta atau temuan dimaksudkan untuk menjawan rumusan tersebut.

3.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
Aspek manfaat dan tujuan penelitian dalam bagian pendahuluan karangan ilmiah biasanya berseiring dengan rumusan masalah. Tujuan penelitian disajikan untuk mengeksplisitkan arah penelitian pada target yang harus didapatkan dari suatu kajian atau penelitian. Dalam jenis karangan ilmiah laporan penelitian, biasanya tujuan penelitian diarahkan pada pemecahan masalah-masalah praktis yang menjadi ketimpangan atau problematika. Demikian pula dengan manfaat penelitian, biasanya dipecah ke dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan manfaat praktis dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Penulisan subbab tujuan dan manfaat penelitian biasanya digabungkan. Kemudian subbab tersebut, dipecah kembali ke dalam dua bagian kecil jika penyusun karangan ilmiah menggunakan terminologi itu secara berbeda.
4.      Hipotesis Penelitian
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.
Hipotesis penelitian dalam karangan ilmiah diungkapkan secara lugas, singkat , dan padat. Pernyataan hipotesis mendorong pembuktian dalam pengolahan data. Apabila hipotesis terdiri atas hipotesis utama dan hipotesis turunan, maka penyajiannya diungkapkan berdasarkan hipotesis utama.
Contoh Hipotesis Penelitian:
“Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja pegawai dengan kesejahteraan yang diterima dan kualitas pengawasan yang dilakukan.”
“Kemampuan membaca siswa berpengaruh terhadap kemampuan menuangkan gagasan secara lisan dan tulisan.”
Hipotesis penelitain dalam karangan perlu dibuktikan melalui serangkaian pengujian indikator. Pembuktian hipotesis sangat bergantung pada kecermatan di dalam pengolahan data. Dari pembuktian, baik diterima atau ditolak hipotesis yang telah ditetapkan harus dilanjutkan pada pembahasan.
E.     Landasan Teori
Bagian landasan teori dalam karangan ilmiah ditempatkan pada bagian kedua, setelah bagian pendahuluan. Penggunaan judul bagian ini telah disesuaikan dengan isi utama yang disajikan. Meskipun demikian, biasanya pada suatu lembaga pendidikan inggi biasanya dianut konvensi yang sering dilakukan para penyusun karangan ilmiah. Pada institusi tertentu ada konvensi yang menjudulinya bagian ini dengan “Landasan Teori”, tetapi pada institusi lain ada konvensi dalam menjuduli bagian tersebut dengan konsep teori utama dari serangkaian teori yang disajikan pada bagian itu.
Landasan teori merupakan deskiripsi lengkap teori-teori yang digunakan. Setiap teori yang bertemali dikupas dalam bagian ini dan disusun menjadi sebuah rangkaian argumen keilmuan. Bagian landasan teori merupakan serangkaian argumen keilmuan yang diaransemen. Penyusun karangan ilmiah akan menyusun argumennya dengan dilandasi oleh serangkaian teori, untuk menyusun bagian ini diperlukan kemampuan bernalar penulis dalam menghubungkan teori.
Bagian demi bagian dalam landasan teori disusun dalam suatu penyusunan argumen. Sususan ini biasanya tampak dalam daftar isi suatu karangan ilmiah
Penulisan kutipan atau rujukan sebagai teori dalam bagian landasan teori mengikuti pola yang baku. Penyusun karangan ilmiah harus konsisten dalam menggunakan sistem penulisan kutipan atau rujukan. Konsistensi ini menunjukkan sikap ilmiah dari seseorang penyusun karangan ilmiah. Landasan teori bukan merupakan tumpukan teori yang digunakan dalam karangan ilmiah, melainkan rangkaian argumen yang ditopang oleh teori. Untuk menyusun ini diperlukan kemampuan meramu dan mengikatkan teori dengan argumen.
F.      Metode Penelitian
Bagian metode penelitian merupakan bagian yang penting, khususnya bagi karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi atau laporan penelitian. Pada ketiga jenis tersebut, bagian ini disajikan setelah landasan teori.
Pada bagian metode dan prosedur penelitian biasanya berisi hal-hal berikut:
1.      Rancangan atau desain penelitian
2.      Variabel penelitian atau fokus kajian
3.      Langkah-langkah penelitian
4.      Sumber data atau populasi dan sampel
5.      Tempat dan waktu penelitian
6.      Sumber data atau populasi
7.      Pengolahan data, dan
8.      Validasi penelitian

G.    Pembahasan
Bagian pembahasan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang jumlahnya paling mendominasi karangan ilmiah. Kekuatan karangan ilmiah akan ditunjukkan oleh keandalan peneliti dalam menyajikan bagian pembahasan. Dalam jenis karangan artikel atau makalah untuk jurnal atau pertemuan ilmiah biasanya bagian ini merupakan bagian yang tampak sebagai bagian yang dari jumlah bagiannya mendominasi karangan ilmiah. Pada karangan ilmiah jenis skripsi yang menggunakan pendekatan kuantitatif, biasanya sering terabaikan manakala peneliti telah membuktikan hipotesis. Padahal, seharusnya pada bagian pembahasan ini penulis mendiskripsikan data empiris dengan berbagai konsep teoritis yang dijadikan landasan penelitian.
Penulis karangan ilmiah yang andal akan memandang bagian pembahasan merupakan bagian inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian ini penyusun menyodorkan argumen yang ditopang oleh pembuktian data empiris dan konsep teoritis. Oleh karena itu, bagian ini merupakan kekuatan argumen ilmiah yang disajikan dalam karangan ilmiah.
H.    Kesimpulan dan Saran
Bagian simpulan dan saran merupakan bagian akhir dari karangan ilmiah. Bagian ini harus merupakan pernyataan deklaratif sebagai jawaban dari rumusan masalah. Penyajian bagian ini harus memiliki kesejalanan dengan bagian pendahuluan dan pembahasan dalam karangan ilmiah.
Pada bagian simpulan tidak lagi disajikan angka-angka pembuktian, jika penelitiannya menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada bagian ini deiungkapkan makna dari setiap pembuktian hipotesis yang merupakan deskripsi jawaban dari rumusan masalah penelitian.
Bagian saran dalam karangan ilmiah merupakan rekomendasi dari penelitian. Saran yang disajikan harus berdasarkan simpulan penelitian, sehingga bukan merupakan pikiran atau pendapat penyusun tentang suatu fenomena. Saran merupakan tindak lanjut atau suatu implementasi dari penyelesaian sutu permasalahan yang disajikan berdasarkan hasil penelitian atau kajian

B.     Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Karya Ilmiah

Pada dasarnya, dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap, yaitu:
1.      Persiapan;
2.      Pengumpulan data;
3.      Pengorganisasian dan pengonsepan;
4.      Pemeriksaan dan penyuntingan konsep;
5.      Penyajian dan pengetikan (Arifin, 2006)

A.    Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan hal yang dilakukan adalah pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkannya. Topik/masalah adalah pokok pembicaraan. Topik banyak tersedia dan melimpah di sekitar kita, misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, akuntansi, hukum, dan sebagainya.
Dalam hubungan dengan pemilihan topik yang hendak diangkat ke dalam karya ilmiah, keraf (Keraf, 1980) berpendapat bahwa penyusunan karya ilmiah lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahui sama sekali. Setelah topik ditentukan, dalam tahap persiapan juga harus memperhatikan penentuan judul dan pembuatan kerangka karangan.

B.     Pengumpulan Data
Jika judul karya ilmiah dan kerangkanya sudah ditentukan, penyusun sudah dapat mulai mengumpulakan data. Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul tulisan. Informasi yang relevan diambil sarinya dan dicatat pada kartu informasi. Disamping pencarian informasi dari kepustakaan, penyusun juga dapat mulai terjun kelapangan. Data di lapangan dapat dikumpulkan melalui pengamatan (observasi), wawancara, atau eksperimen (percobaan).

C.     Pengorganisasian/Pengonsepan
Jika data sudah terkumpul, penyusun menyeleksi dan mengorganisasi data tersebut. Penyusun harus menggolong-golongkan data menurut jenis, sifat, dan bentuk. Penyusun menentukan data mana yang akan dibicarakan kemudian. Jadi, penyusun harus mengolah dan menganalisis data yang ada dengan teknik-teknik yang ditentukan. Misalnya jika penenlitian kuantitatif, data diolah dan dianalisis dengan teknik statistik. Selanjutnya, penyusun dapat mulai mengonsep karya ilmiah dengan urutan yang diterapkan.

D.    Pemeriksaan/Penyuntingan
Sebelum mengetik konsep, penyusun terlebih dahulu memeriksanya. Tentu ada bagian yang tumpang tindih atau bagian yang berulang-ulang. Buanglah penjelasan yang tidak perlu dan tambahkan penjelasan yang dirasakan sangat menunjang pembahasan. Secara singkat, pemeriksaan konsep mencakupi pemeriksaan isi karya dan cara penyajian karya, temasuk penyuntingan bahasa yang digunakan untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuian kalimat, penyesuian paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.

E.     Tahap Penulisan Data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah:
1.      Pencarian keterangan dari bahan bacaan atau referensi.
2.      Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
3.      Pengamatan langsung (observasi) ke objek yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.
4.      Melakukan percobaan di laboratorium atau pengujian data di lapangan.

F.      Tahap Penyajian
Pada tahap penyajian karya ilmiah ini harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Segi kerapian dan kebersihan.
2.      Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misal pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka, dan lain-lain.

3.      Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, misal satandar penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka, dan penggunaan bahasa sesuai EYD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar