pages

Selasa, 19 Desember 2017

KOPMA UIN SUNAN KALIJAGA JUARA 3 NATIONAL COOPERATIVE COMPETITION

KOPMA UIN SUNAN KALIJAGA JUARA 3 NATIONAL COOPERATIVE COMPETITION
 
Yogyakarta- 
Kopma UIN Sunan Kalijaga kembali torehkan prestasi pada National Cooperative Competition (NCC) dilaksanakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tanggal (2-3/11). Kegiatan tersebut merupakan ajang kompetisi antar Koperasi Mahasiswa tingkat Nasional, dimana para peserta akan saling berkompetisi perihal pengetahuan perkoperasian, baik dari tataran teoris, yuridis, maupun manajemen koperasi. Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 tim yang terdiri dari 35 Universitas di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Kopma UIN Sunan Kalijaga yang diwakili oleh Anggota Kopma dari Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum yaitu Panca Putra Anggun, Kholil Hasim Nur Mahmud dan Murtadha Muthaharri berhasil meraih Juara 3.
Panca selaku ketua tim bersyukur atas apa yang telah diraih bersama kedua rekannya tersebut “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas semua ini. Ini semua diluar dari ekspektasi kami, kami selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Kopma pada Khususnya dan UIN pada umumnya. Do’a dan atas Ridha-Nya, yang membuat kami selalu berpegang teguh pada prinsip kami yakni beri kami sebuah kesulitan maka kami akan belajar, dari situlah motivasi kami terbentuk. Kami bangga berkoperasi, karena berkoperasi membuat kami berprestasi” kata Panca.
Andi Sopyan Sauri, Ketua Kopma UIN Suka, mengatakan bahwa Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat juang dan komitmen dari Kopma UIN Sunan Kalijaga terhadap visinya Menjadi Mitra Sukses Study Anggota. Prestasi yang telah ditorehkan dalam ajang NCC ini merupakan salah satu dari beberapa prestasi yang telah diukir oleh anggota dalam tahun 2017 ini dan juga sebagai penutup pencapaian di akhir tahun 2017. “Saya sangat mengapresiasi kepada para anggota yang telah berjuang dan bekerja keras untuk Kopma UIN Sunan Kalijaga melalui prestasi dan berbagai kegiatan-kegiatan lainnya. Hal tersebut merupakan bukti, bahwa selain berusaha menjadi incubator pengembangan generasi kooperator yang unggul di lingkungan kampus, Kopma UIN Sunan Kalijaga juga akan selalu berusaha untuk mengharumkan nama baik Kopma UIN Sunan Kalijaga di kancah Nasional maupun internasional ” kata Andi Sopyan Sauri.
Selain itu Kopma juga aktif mengikiti kegiatan Konferensi Koperasi dunia pad Tanggal (13-17/11), dengan kegiatan yang bernama Global Conference and General Assembly di Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Cooperative Alliance (ICA). Dalam konferensi ini, Andi Sopyan Sauri, Ketua Umum UKM Kopma menjadi delegasi Kopma UIN Sunan Kalijaga dalam konferensi tersebut. Acara ini diikuti oleh 7 Kopma, Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO), dan Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) sebagai wakil peserta dari Indonesia. (Doni TW-humas UIN Suka)

Senin, 18 Desember 2017

Internet Sehat Untuk Anak

Saat ini siapa yang tidak kenal dengan dunia maya atau lebih di kenal dengan sebutan internet, masyarakat kecil, menengah terlebih kalangan atas pun semua menggunakan internet, hanya saja terbatas kemampuan bagi mereka yang tidak bisa mengakses. Internet bisa lebih mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi adalah dengan memberdayakan masyarakat dengan mengusung ide internet cerdas.
 Maksudnya adalah, agar masyarakat secara cerdas dapat memanfaatkan teknologi informasi, khususnya internet, yang berfungsi sebagai alat untuk membuat masyarakat itu sendiri makin cerdas, sehat, mandiri dan sejahtera. Internet merupakan jaringan komunikasi dan informasi global. Berjuta manfaat bisa didapat hanya bermodalkan kemampuan dan kemauan menggunakan internet, seperti berkorespodensi dengan mudah, murah, dan cepat keseluruh penjuru dunia; mendapatkan data dan informarsi untuk membantu tugas sekolah/kampus/pekerjaan; mendapatkan berita informasi/berita nasional dan manca Negara; mencari pekerjaan atau beasiswa; mengumpulkan resep masakan; memperluas jaringan pertemanan dan bisnis; menggali ilmu dan agama, dan kegiatan lainnya.
Pada kemajuan teknologi yang begitu pesat di era yang telah berkembang, membuat segala macam informasi bisa dengan mudah didapatkan. Namun, apakah semua informasi tersebut bermanfaat? Ada kalanya, informasi maupun konten yang kita dapatkan dari internet tidak seluruhnya "sehat", terutama untuk perkembangan anak-anak. Tidak semua konten, dapat layak dikonsumsi oleh anak-anak.
Bagi kalian para orang tua, kakak atau yang terlibat langsung dengan perkembangan anak-anak. Berikut ada tips yang bisa dilakukan supaya anak berinternet dengan sehat dari Kak Rita, selaku founder Komunitas Internet Sahabat Anak (KISA):
1. Dampingi saat anak menggunakan gadget/internet.
Di era digital seperti sekarang, anak-anak tidak bisa lagi dihindarkan dari gadget/internet. Anak-anak perlu diperkenalkan pada internet tapi harus didampingi supaya mereka tidak mengakses dan terpapar konten negatif. Selain itu, dengan memberikan pendampingan, orang tua juga bisa melihat potensi dan bakat anak, serta mengarahkan anak-anak untuk memanfaatkan internet seperti membuat games sederhana, desain, menulis cerita, dsb.
2. Batasi waktu bermain gadget/internet
Untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, sebaiknya sama sekali tidak diperkenankan menggunakan gadget/internet. Di atas usia 2 tahun, mulai diperbolehkan bermain gadget/internet dengan memberikan batasan waktu sesuai tingkat usianya. Saya sendiri membolehkan putri saya yang berusia 8 tahun untuk bermain internet/gadget dengan memberikan batasan waktu yaitu 2 jam sehari. Selebihnya, anak-anak diajak untuk melakukan aktivitas lainnya seperti bermain musik, beraktifitas di luar rumah, bersepeda, menggambar, merancang bangunan dengan permainan balok, dsb.
3. Berikan alasan dan penjelasan saat memberikan gadget/internet kepada anak-anak
Jangan memberikannya hanya untuk sekedar gaya-gayaan atau ikut-ikutan saja. Bila dirasa perlu untuk komunikasi, bisa diberikan gadget yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Lalu berikan pemahaman dan diskusikan tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan alat teknologi tersebut.
4. Ajarkan Literasi Media
Karena orang tua tidak bisa selalu ada di dekat mereka. Jadi, ajarkan anak-anak untuk memahami mana saja konten yang positif, netral, dan negatif. Tanamkan rasa disiplin dan tanggung jawab dalam berinternet. Sehingga anak-anak memiliki kekebalan dan mengetahui konten mana yang boleh dan tidak boleh dia akses. Sehingga tidak mudah terpengaruh juga oleh teman-temannya.
5. Parental Control
Yang harus dilakukan juga adalah menggunakan parental control untuk memblokir situs-situs berbahaya bagi anak. Saat ini, ada beberapa parental control yang bisa didownload secara gratis. Tapi, parental control terbaik tetap saja adalah orang tuanya.
Sekian tipsnya sahabat desa coding, semoga sangat bisa di praktekkan dirumah.
Perlu diketahui juga dengan menggunakan jejaring sosial, ada beberapa hal yang harus diingat yaitu :
1.      Memasang profil diri secukupnya saja karena rentan dimanfaatkan orang lain.
2.      Waspadalah ketika bertemu offline dengan orang yang dikenal di internet.
3.      Jangan memasang foto tidak layak karena berpotensi disalahgunakan orang lain.
4.      Selektiflah mengapprove atau meng add teman, khusunyayang belum dikenal sebelumnya.


            Ingatlah !! yang ditulis dijejaring sosial akan dibaca banyak orang dan tersbar luas. Dampaknya berpotensi merugikan diri sendiri atau orang lain dan sangat mungkin berujung pada tuntutan hokum. Banyak cara sebenarnya untuk berinternet sehat dan aman, karena dengan berinternet sehat dapat menyelamatkan kita dari berbagai kondisi yang tidak menyenangkan termasuk ancaman kejahatan. Dan yang terpenting jadikan internet media yang posistif guna membangun generasi bangsa yang maju dan berpotensi khususnya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.

KONSEP DAN LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH

A.    Sistematika Dalam Penulisan Karya Ilmiah

Dalam menuliskan bagian-bagian karangan ilmiah, sering kali terdapat kegamangan bagi para penulis pemula dalam mengungkapkan gagasan pada setiap bagian karangan ilmiah. Marilah kita diskusikan langkah-langkah atau cara penulisan setiap bagian karya tulis ilmiah.
Pada umumnya struktur karangan ilmiah terdiri atas tiga bagian. Bagian yang dimaksud adalah: (1) bagian pendahulu karangan yang menyajikan latar belakang masalah penulisan atau kajian, diikuti oleh bagian permasalahan atau rumusan masalah, dan  menyajikan maksud dan tujuan kajian dan penulisan, (2) bagian isi karangan yang merupakan pernyataan dan pengembangan gagasan utama, bagian ini merupakan bagian karangan yang sesungguhnya karena selain berisi uraian pengembangan gagasan utama, juga berisi pemecahan masalah yang diungkapkan pada bagian pendahulu karangan, (3) bagian penutup karangan merupakan bagian simpulan yang harus memagut gagasan utama yang dituangkan dalam isi karangan. Simpulan dapat berupa ringkasan dari solusi yang diuraikan dalam bagian isi karangan yang disertai saran atau rekomendasi dari hasil pembahasan.
Selain ketiga bagian utama karya tulis ilmiah sebagaimana diungkapkan di atas, terdapat pula bagian pelengkap karangan ilmiah. Bagian pelengkap memiliki peranan penting pula dalam karangan ilmiah sebagai penguat gagasan yang disajikan penulis. Unsur-unsur atau bagian-bagian pelengkap karangan ilmiah terdiri atas: judul dan halaman judul, daftar isi, pendahuluan umum, tubuh uraian, ucapan terima kasih, dan pengakuan meminjam material, daftar pustaka, dan lampiran (Brotowidjojo, 1993: 99-120). Apabila diperinci kembali bagian-bagian yang terdapat dalam karya tulis ilmiah, terdapat pula bagian pendukung argument, diantaranya daftar, tabel, grafik, gambar, dan kepustakaan.

A.    Abstrak
Pada karangan Ilmiah terdapat bagian yang dinamakan Abstrak. Abstrak disajikan pada awal karangan ilmiah, sebelum bagian kata pengantar. Sebagaimana namanya, bagian ini merupakan bagian yang abstrak. Oleh karena itu penyajian bagian disajikan kata-kata dan kalimat-kalimat yang megabstraksi dari penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada bagian ini tidak digunakan data atau angka sebagai fakta, melainkan uraian abstrak tentang hasil penelitian atau kajian yang disajikan dalam tulisan.

Dalam pengertian yang sederhana, abstrak merupakan penggambaran secara maya suatu fakta. Abstrak merupakan penggambaran dengan kata-kata dari suatu fakta. Misalnya, dalam kajian diketahui bahwa kinerja para pegawai dipengaruhi oleh kesejahteraan yang diberikan suatu perusahaan. Maka, semakin baik kesejahteraan yang diberikan perusahaan, akan semakin baik pula kinerja para pegawai. Pengaruh kesejahteraan kinerja dan peningkatan kinerja pegawai tersebut tidak dapat diamati secara nyata. Oleh karena itu, sajian di muka merupakan sajian abstrak dari suatu fakta hasil kajian atau penelitian

Bagian abstrak karangan ilmiah disajikan dalam bentuk ringkas dan singkat. Bagian ini hanya terdiri atas satu halaman dan ditulis dalam satu spasi. Pada bagian ini tidak terdapat identitas penulis, karena merupakan bentuk abstrak dari penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada jenis tulisan ilmiah lain, sering digunakan kata kunci (key words) yang biasanya hanya terdiri atas tiga hingga empat kata yang esensi dari karangan ilmiah tersebut.

B.     Kata Pengantar
Dalam menuliskan karangan ilmiah, bagian kata pengantar termasuk bagian yang sering disajikan. Pada karangan ilmiah berupa artikel atau karangan ilmiah populer biasanya bagian ini diabaikan karena teknis penulisan yang berbeda, tetapi dalam karangan ilmiah yang lain bagian ini sering digunakan.
Berdasarkan hakikatnya, kata pengantar merupakan bagian yang mengantar pembaca pada isi argumen yang terdapat dalam karangan ilmiah. Dengan demikian, kata pengantar bukan hanya berisi ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang dipandang telah memberikan kontribusi pada karangan ilmiah yang disusun. Bahkan, pada karangan karya ilmiah berupa tesis dan disertasi bagian kata pengantar dan bagian ucapan terima kasih disajikan dalam dua bagian yang berbeda. Pada kata pengantar seharusnya disajikan antaran materi atau gambaran umum tentang bahasa karangan ilmiah.
Bagian kata pengantar selalu ditulis pada halaman tersendiri. Bagian ini bukan merupakan bagian karangan yang bergabung dengan bagian lain. Dalam teknis penulisannya bagian kata pengantar ilmiah selalu menempatkan pada bagian awal karangan, yang ditempatkan sebelum daftar isi. Pada akhir bagian kata pengantar, di sebelah kanan biasanya dicantumkan tempat dan tanggal serta nama penulis karangan ilmiah tersebut.
C.     Daftar isi
Bagian daftar isi dalam karangan ilmiah merupakan pemandu bagi pembaca. Daftar isi berfungsi sebagai petunjuk isi (Brotowidjojo, 1993: 106). Bagian isi berisi susunan dan urutan isi karangan ilmiah yang dilengkapi nomor halamannya. Bagian daftar isi memuat daftar seluruh bagian yang terdapat dalam karya ilmiah. Selain itu, penulisan halaman pun harus tepat sehingga bagian ini dapat berfungsi dengan baik sebagai pemandu pembaca karangan ilmiah. Pembaca karangan ilmiah akan membuka bagian yang ingin dibacanya berdasarkan halaman yang dicantumkan dalam daftar isi.
Penulisan bagian daftar isi dalam karangan ilmiah ditempatkan setelah bagian kata pengantar. Bagian ini ditulis pada halaman tersendiri, sehingga bukan merupakan kelanjutan dari bagian yang lain atau dilanjutkan oleh bagian lain. Penulisan kata dan besar kecilnya huruf dari bab dan sub bab yang dicantumkan dalam daftar isi harus sama seperti kata atau huruf yang tercantum di dalam isi karangan ilmiah. Pada beberapa contoh karya ilmiah di bagian kanan atas dari daftar isi ini menggunakan kata “halaman”, tetapi tanpa itu pun angka-angka dibagian kanan itu menunjukkan halaman dari daftar isi karangan ilmiah.
Dalam karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi selain terdapat bagian daftar isi, terdapat pula bagian daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran. Ketiga bagian ini kehadirannya bergantung pada isi karangan ilmiah tersebut. Jika pada karangan ilmiah terdapat bagian-bagian yang dimaksud, maka dicantumkan di dalam daftar tersendiri yang penempatannya setelah daftar isi. Penulisan bagian-bagian daftar tersebut sebagaimana bagian daftar isi menggunakan halaman tersendiri atau tidak digabungkan dengan bagian lainnya.
D.    Pendahuluan
Bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang mengungkapkan posisi suatu masalah dan perlunya kajian atau penelitian dilakukan. Bagian ini mengungkapkan informasi dan tentang permasalahan penelitian atau kajian. Oleh karena itu, dalam karangan ilmiah berbentuk skripsi, tesis, dan disertasi biasanya dalam bagian ini terdapat latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian atau kajian, asumsi dan hipotesis penelitian (jika penelitiannya berhipotesis), kerangka pikir penelitian atau paradigma penelitian.
Pada karangan ilmiah populer, artikel, laporan buku, atau makalah biasanya aspek-aspek diatas diungkapkan dengan tanpa menggunakan pembagian secara tegas atas aspek-aspek tersebut. Pada dasarnya, bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah menyajikan posisi masalah yang memerlukan kajian atau penelitian.
Berikut bagian bagian yang biasanya tercantum dalam pendahuluan :
1.      Latar Belakang Masalah
Aspek latar belakang masalah bagian pendahuluan biasanya deskripsi tentang kedudukan masalah tersebut. Latar belakang masalah biasanya mendeskripsikan mengapa masalah itu ada dan timbul berdasarkan analisis penulis atau mengapa suatu hal dianggap masalah oleh penulis. Latar belakang masalah merupakan paparan tentang adanya ketimpangan antara suatu ketentuan dengan kenyataan. Berdasarkan paparan tersebut, biasanya disertai  dengan mengapa masalah itu penting untuk dikaji atau diteliti,baik berimplikasi pada perkembangan ilmu atau pada kepentingan pembangunan.
Latar belakang masalah merupakan bagian masalah yang membuat penyusun gelisah dan resah jika masalah tersebut tidak dikaji atau diteliti. Pada bagian ini diungkapkan kedudukan masalah yang akan dikaji atau diteliti dan posisi masalah tersebut dalam persepektif keilmuan penyusun.
 Penyajian latar belakang dilakukan dengan cara mengkonfrontasi antara teori-teori atau konsep-konsep dengan fenomena yang terjadi. Penyajian bagian ini dapat pula dilakukan dengan mengungkap suatu ketentuan, pedoman, peraturan yang seharusnya dilaksanakan, tetapi kenyataannya tidak sehingga menimbulkan suatu masalah. Bagian ini dapat pula berupa penyajian prediksi logis terhadap sesuatu yang dianggap sebagai penyebab dari suatu fenomena yang menimbulkan masalah.
2.      Rumusan Masalah
Bagian rumusan masalah merupakan bagian yang menjelaskan permasalahan yang akan dikaji atau diteliti. Rumusan masalah dalam karangan ilmiah biasanya disajikan dalam bentuk kalimat introgatif atau kalimat tanya. Namun, pertanyaan dalam rumusan masalah misalnya “apakah atau bagaimanakah”. Apakah penyusun karangan ilmiah memandang rumusan masalah dalam penelitian yang akan dilakukan perlu diperinci kembali ke dalam bagian yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan menurunkan rumusan masalah ke dalam bagian yang lebih terperinci.
Contoh rumusan masalah:
1.      Apakah ciri-ciri penting dari suatu buku yang ditetapkan sebagai buku pelajaran yang memilki keterbacaan yang tinggi?
2.      Jenis pengukuran keterbacaaan manakah yang dapat digunakan dalam menentukan keterbacaan sutu buku pelajaran untuk sekolah dasar?
            Bagian rumusan masalah pada kajian atau penelitian yang memiliki multi variabel, biasanya penyajiannya dikaitkan dengan variabel-variabel yang akan diteliti atau dikaji dan merumuskan kaitan antar variabel yang akan dibertemalikan. Bahkan, penyusun karangan ilmiah yang cermat akan merumuskan masalah pertanyaan-pertanyaan indikator dari setiap variabel yang diteliti atau dikaji.
            Rumusan masalah dalam karangan ilmiah juga berfungsi sebagai pemandu bagi penulis untuk mencari tahu dan mencari jawaban atas masalah yang dirumuskan itu. Rumusan masalah juga dapat membimbing pembahasan dalam karya ilmiah, sehingga pengupasan fakta atau temuan dimaksudkan untuk menjawan rumusan tersebut.

3.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
Aspek manfaat dan tujuan penelitian dalam bagian pendahuluan karangan ilmiah biasanya berseiring dengan rumusan masalah. Tujuan penelitian disajikan untuk mengeksplisitkan arah penelitian pada target yang harus didapatkan dari suatu kajian atau penelitian. Dalam jenis karangan ilmiah laporan penelitian, biasanya tujuan penelitian diarahkan pada pemecahan masalah-masalah praktis yang menjadi ketimpangan atau problematika. Demikian pula dengan manfaat penelitian, biasanya dipecah ke dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan manfaat praktis dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Penulisan subbab tujuan dan manfaat penelitian biasanya digabungkan. Kemudian subbab tersebut, dipecah kembali ke dalam dua bagian kecil jika penyusun karangan ilmiah menggunakan terminologi itu secara berbeda.
4.      Hipotesis Penelitian
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.
Hipotesis penelitian dalam karangan ilmiah diungkapkan secara lugas, singkat , dan padat. Pernyataan hipotesis mendorong pembuktian dalam pengolahan data. Apabila hipotesis terdiri atas hipotesis utama dan hipotesis turunan, maka penyajiannya diungkapkan berdasarkan hipotesis utama.
Contoh Hipotesis Penelitian:
“Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja pegawai dengan kesejahteraan yang diterima dan kualitas pengawasan yang dilakukan.”
“Kemampuan membaca siswa berpengaruh terhadap kemampuan menuangkan gagasan secara lisan dan tulisan.”
Hipotesis penelitain dalam karangan perlu dibuktikan melalui serangkaian pengujian indikator. Pembuktian hipotesis sangat bergantung pada kecermatan di dalam pengolahan data. Dari pembuktian, baik diterima atau ditolak hipotesis yang telah ditetapkan harus dilanjutkan pada pembahasan.
E.     Landasan Teori
Bagian landasan teori dalam karangan ilmiah ditempatkan pada bagian kedua, setelah bagian pendahuluan. Penggunaan judul bagian ini telah disesuaikan dengan isi utama yang disajikan. Meskipun demikian, biasanya pada suatu lembaga pendidikan inggi biasanya dianut konvensi yang sering dilakukan para penyusun karangan ilmiah. Pada institusi tertentu ada konvensi yang menjudulinya bagian ini dengan “Landasan Teori”, tetapi pada institusi lain ada konvensi dalam menjuduli bagian tersebut dengan konsep teori utama dari serangkaian teori yang disajikan pada bagian itu.
Landasan teori merupakan deskiripsi lengkap teori-teori yang digunakan. Setiap teori yang bertemali dikupas dalam bagian ini dan disusun menjadi sebuah rangkaian argumen keilmuan. Bagian landasan teori merupakan serangkaian argumen keilmuan yang diaransemen. Penyusun karangan ilmiah akan menyusun argumennya dengan dilandasi oleh serangkaian teori, untuk menyusun bagian ini diperlukan kemampuan bernalar penulis dalam menghubungkan teori.
Bagian demi bagian dalam landasan teori disusun dalam suatu penyusunan argumen. Sususan ini biasanya tampak dalam daftar isi suatu karangan ilmiah
Penulisan kutipan atau rujukan sebagai teori dalam bagian landasan teori mengikuti pola yang baku. Penyusun karangan ilmiah harus konsisten dalam menggunakan sistem penulisan kutipan atau rujukan. Konsistensi ini menunjukkan sikap ilmiah dari seseorang penyusun karangan ilmiah. Landasan teori bukan merupakan tumpukan teori yang digunakan dalam karangan ilmiah, melainkan rangkaian argumen yang ditopang oleh teori. Untuk menyusun ini diperlukan kemampuan meramu dan mengikatkan teori dengan argumen.
F.      Metode Penelitian
Bagian metode penelitian merupakan bagian yang penting, khususnya bagi karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi atau laporan penelitian. Pada ketiga jenis tersebut, bagian ini disajikan setelah landasan teori.
Pada bagian metode dan prosedur penelitian biasanya berisi hal-hal berikut:
1.      Rancangan atau desain penelitian
2.      Variabel penelitian atau fokus kajian
3.      Langkah-langkah penelitian
4.      Sumber data atau populasi dan sampel
5.      Tempat dan waktu penelitian
6.      Sumber data atau populasi
7.      Pengolahan data, dan
8.      Validasi penelitian

G.    Pembahasan
Bagian pembahasan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang jumlahnya paling mendominasi karangan ilmiah. Kekuatan karangan ilmiah akan ditunjukkan oleh keandalan peneliti dalam menyajikan bagian pembahasan. Dalam jenis karangan artikel atau makalah untuk jurnal atau pertemuan ilmiah biasanya bagian ini merupakan bagian yang tampak sebagai bagian yang dari jumlah bagiannya mendominasi karangan ilmiah. Pada karangan ilmiah jenis skripsi yang menggunakan pendekatan kuantitatif, biasanya sering terabaikan manakala peneliti telah membuktikan hipotesis. Padahal, seharusnya pada bagian pembahasan ini penulis mendiskripsikan data empiris dengan berbagai konsep teoritis yang dijadikan landasan penelitian.
Penulis karangan ilmiah yang andal akan memandang bagian pembahasan merupakan bagian inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian ini penyusun menyodorkan argumen yang ditopang oleh pembuktian data empiris dan konsep teoritis. Oleh karena itu, bagian ini merupakan kekuatan argumen ilmiah yang disajikan dalam karangan ilmiah.
H.    Kesimpulan dan Saran
Bagian simpulan dan saran merupakan bagian akhir dari karangan ilmiah. Bagian ini harus merupakan pernyataan deklaratif sebagai jawaban dari rumusan masalah. Penyajian bagian ini harus memiliki kesejalanan dengan bagian pendahuluan dan pembahasan dalam karangan ilmiah.
Pada bagian simpulan tidak lagi disajikan angka-angka pembuktian, jika penelitiannya menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada bagian ini deiungkapkan makna dari setiap pembuktian hipotesis yang merupakan deskripsi jawaban dari rumusan masalah penelitian.
Bagian saran dalam karangan ilmiah merupakan rekomendasi dari penelitian. Saran yang disajikan harus berdasarkan simpulan penelitian, sehingga bukan merupakan pikiran atau pendapat penyusun tentang suatu fenomena. Saran merupakan tindak lanjut atau suatu implementasi dari penyelesaian sutu permasalahan yang disajikan berdasarkan hasil penelitian atau kajian

B.     Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Karya Ilmiah

Pada dasarnya, dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap, yaitu:
1.      Persiapan;
2.      Pengumpulan data;
3.      Pengorganisasian dan pengonsepan;
4.      Pemeriksaan dan penyuntingan konsep;
5.      Penyajian dan pengetikan (Arifin, 2006)

A.    Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan hal yang dilakukan adalah pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkannya. Topik/masalah adalah pokok pembicaraan. Topik banyak tersedia dan melimpah di sekitar kita, misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, akuntansi, hukum, dan sebagainya.
Dalam hubungan dengan pemilihan topik yang hendak diangkat ke dalam karya ilmiah, keraf (Keraf, 1980) berpendapat bahwa penyusunan karya ilmiah lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahui sama sekali. Setelah topik ditentukan, dalam tahap persiapan juga harus memperhatikan penentuan judul dan pembuatan kerangka karangan.

B.     Pengumpulan Data
Jika judul karya ilmiah dan kerangkanya sudah ditentukan, penyusun sudah dapat mulai mengumpulakan data. Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul tulisan. Informasi yang relevan diambil sarinya dan dicatat pada kartu informasi. Disamping pencarian informasi dari kepustakaan, penyusun juga dapat mulai terjun kelapangan. Data di lapangan dapat dikumpulkan melalui pengamatan (observasi), wawancara, atau eksperimen (percobaan).

C.     Pengorganisasian/Pengonsepan
Jika data sudah terkumpul, penyusun menyeleksi dan mengorganisasi data tersebut. Penyusun harus menggolong-golongkan data menurut jenis, sifat, dan bentuk. Penyusun menentukan data mana yang akan dibicarakan kemudian. Jadi, penyusun harus mengolah dan menganalisis data yang ada dengan teknik-teknik yang ditentukan. Misalnya jika penenlitian kuantitatif, data diolah dan dianalisis dengan teknik statistik. Selanjutnya, penyusun dapat mulai mengonsep karya ilmiah dengan urutan yang diterapkan.

D.    Pemeriksaan/Penyuntingan
Sebelum mengetik konsep, penyusun terlebih dahulu memeriksanya. Tentu ada bagian yang tumpang tindih atau bagian yang berulang-ulang. Buanglah penjelasan yang tidak perlu dan tambahkan penjelasan yang dirasakan sangat menunjang pembahasan. Secara singkat, pemeriksaan konsep mencakupi pemeriksaan isi karya dan cara penyajian karya, temasuk penyuntingan bahasa yang digunakan untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuian kalimat, penyesuian paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.

E.     Tahap Penulisan Data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah:
1.      Pencarian keterangan dari bahan bacaan atau referensi.
2.      Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
3.      Pengamatan langsung (observasi) ke objek yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.
4.      Melakukan percobaan di laboratorium atau pengujian data di lapangan.

F.      Tahap Penyajian
Pada tahap penyajian karya ilmiah ini harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Segi kerapian dan kebersihan.
2.      Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misal pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka, dan lain-lain.

3.      Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, misal satandar penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka, dan penggunaan bahasa sesuai EYD

KARYA TULIS ILMIAH

A.    Pengertian Karya Ilmiah

Seperti yang telah dipaparkan pada bagian pendahuluan, karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung olehh fakta, teori, dan/atau bukti-bukti empiris. Dalam hal ini, karya tulis ilmiah dapat dikatakan sebagai hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran yang didasarkan pada fakta, peristiwa, dan gejala yang disampaikan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Tujuannya untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai suatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Meskipun tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, namun tujuannya adala sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Hal semacam ini disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Menurut Mailani (dalam http://blog4makalah.blogspot.com.), karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa karya tulis ilmiah adalah suatu produk dari kegiatan ilmiah. Membicarakan produk ilmiah, pasti kita membayangkan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan temuan baru yang bersifat ilmiah, yaitu penelitian. Memang temuan ilmiah dilakukan melalui penelitian, namun tidak hanya penelitian merupakan satu-satunya karya tulis ilmiah. (Menulis Karya Ilmiah.2013.halaman 7)
Setiap karya tulis ilmiah yang dihasilkan seseorang tidak dengan serta merta dinamakan karya ilmiah, karena karya tulis ilmiah memiliki kekhususan. Beberapa kekhususan tersebut, diantaranya (1) mengupas dan mempermasalahkan pengetahuan, (2) menerapkan kebenaran ilmiah dan disajikan dengan metode ilmiah, (3) menggunakan bentuk dan bahasa ilmiah. Dengan demikian, setiap karya tulis yang memiliki kekhususan tersebut dapat dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah. (Merancang Karya Tulis Ilmiah.2012.halaman 2)
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karya ilmiah merupakan laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ciri-ciri karya ilmiah :
1.      Objektif
Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memverifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
2.      Netral
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau memengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
3.      Sistematis
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demikian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
4.      Logis
Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
5.      Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan)
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
6.      Tidak pleonastis
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat kata-katanya atau tidak berbelit-belit (langsung tepat menuju sasaran).
7.      Bahasa yang digunakan adalah ragam formal
Dalam menulis karya ilmiah tidak boleh menggunakan bahasa ragam santai. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia ragam formal, yaitu bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kegunaan Karya Ilmiah :
                        Pada dasarnya semua ilmu ataupun teknologi yang ada di dunia ini, perlu diteliti, ditingkatkan dan dikembangkan fungsi dan peranannya untuk melahirkan perubahan. Karena yang kekal di dunia ini hanya satu, yaitu perubahan. Perubahan yang positif melahirkan kemajuan dan kemajuan inilah yang dituntut oleh ilmu pengetahuan. Tanpa kemajuan, kehidupan di dunia tidak ada artinya sama sekali.
                        Salah satu cara untuk mencapai kemajuan adalah dengan melakukan pengamatan, pengkajian, dan penelitian dari sumber-sumber ilmu tersebut yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Salah satu tugas para ilmuwan (scientists) atau para pandit (scholars) adalah memaparkan hasil kajian, pengamatan atau penelitiannya kepada masyarakat luas.
                        Sebenarnya kegunaan penulisan karya tulis ilmiah bukan hanya sekadar untuk mendapatkan gelar atau memperoleh kredit point untuk kenaikan jabatan, tetapi tujuan utama dibuatnya karya tulis ilmiah adalah untuk mendokumentasikan hasil-hasil penelitian yang berhasil mendapatkan atau membuktikan kebenaran ilmiah. Mungkin yang tidak sama adalah gradasi kebenaran imliah yang ingin atau berhasil dicapai oleh seseorang. Bagi seorang peneliti profesional, keuntungan yang paling besar dan berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan.
                        Penemuan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan dalam karya tulis ilmiah itu bertujuan untuk :
a.       Pengakuan scientifik objektif untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan pemaparan teori-teori baru yang sahih serta terandalkan.
b.      Pengakuan praktisial objektif guna membantu pemecahan problema praktisi yang mendesak.

B.     Jenis-Jenis Karya Ilmiah

Pada prinsipnya semua karya tulis ilmiah itu sama yaitu hasil dari suatu kegiatann ilmiah. Yang memebedakan hanyalah materi, susunan, tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut. Penentuan jenis atau macam karya ilmiah biasanya disesuaikan dengan keperuntukannya karya ilmiah tersebut. Secara garis besar, karya ilmiah di klasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian
a.      Karya Ilmiah Pendidikan
1.      Karya ilmiah pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan. Karya ilmiah pendidikan terdiri dari :
a)      Paper (karya tulis)
Paper atau lebih popular dengan sebutan karya tulis, adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah, yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.
b)      Pra skripsi
Pra skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatkan gelar sarjana muda. Karya tulis ini disyaratkan bagi mahasiswa pada jenjang akademi atau setingkat diploma  (D-3). Materi tulisannya sudah menggunakan kaidah ilmiah, yaitu berdasarkan hasil penelitian atau survey. Karena masih berupa pra skripsi, jumlah halaman umumnya ditentukan paling sedikit minimal 15 halaman.
c)      Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang diperuntukkan sebagai persyaratan mahasiswa mendapatkan gelar sarjana (S-1). Istilah skripsi berasal dari kalimat deskripsi (description), yang berarti memberikan gambaran tentang suatu masalah yang dibahas dengan memaparkan data serta pustaka, untuk menghasilkan kesimpulan. Pembahasan dalam skripsi harus dilakukan mengikuti alur pemikiran ilmiah yaitu logis dan empiris (mendalam). Logis dan empiris artinya, pembahasannya harus masuk akal dan mendalam, dengan pembuktian berupa data yang diperoleh dari penelitian lapangan.
d)     Thesis
Thesis adalah suatu karya ilmiah pendidikan yang peruntukannya sebagai salah satu persyaratan bagi mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister (S-2). Sebenarnya, secara teoretis pembuatan skripsi sama dengan thesis, yaitu bersumber pada data dan pustaka. Data diperoleh dari lapangan berupa hasil penelitian, sedangkan pustaka didapat dari literature di perpustakaan.
            Istilah thesis berasal dari kalimat sinthesa (sinthation). Kalau skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka thesis bertujuan mensinthesakan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi, guna memperluas khazanah ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah. Perluasan khazanah itu terutama berupa temuan-temuan baru hasil dari suatu penelitian.
e)      Disertasi
Disertasi (dissertation) adalah suatu karya tulis ilmiah yang mempunyai sumber utama berupa penyelidikan laboratorium, atau penelitian lapangan. Jadi disertasi harus menghasilkan satu temuan baru, baik dari ilmu sosial ataupun ilmu eksakta. Di kalangan perguruan tinggi, karya tulis ilmiah disertasi merupakan tugas akhir  yang dibebankan kepada seorang mahasiswa dari perguruan tingginya, untuk meraih gelar doktor.
2.      Karya ilmiah panduan
a)      Panduan Pelajaran (textbook)
Panduan pelajaran (textbook) merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah. Bedanya, panduan pelajaran bukan merupakan hasil penelitian, tetapi ringkasan dari pelajaran atau mata kuliah.
b)      Buku pegangan (handbook)
Buku pegangan (handbook) adalah bentuk karya tulis ilmiah yang bertujuan memberikan petunjuk cara mengoperasionalkan suatu barang yang sudah ada. Misalnya buku pegangan mengoperasionalkan pengisian data penelitian dalam komputer, petunjuk penggunaan peralatan laboratorium, dan sebagainya.
c)      Buku pelajaran (diktat)
Buku pelajaran (diktat) termasuk kelompok karya tulis ilmiah. Hanya saja dibuatnya bukan berdasarkan penelitian, tetapi materi pelajaran atau mata kuliah dari suatu ilmu.
            Diktat biasanya dibuat oleh guru, dosen atau guru besar untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkannya. Bisa jadi seorang guru, dosen atau guru besar membuat buku pelajaran atau diktat yang tidak diajarkannya sendiri, namun demikian penulis buku tersebut harus benar-benar menguasai ilmu dari pelajaran atau mata kuliah yang ditulisnya itu.
3.      Karya ilmiah referensi
a)      Kamus
Kamus juga termasuk karya ilmiah. Kamus berisi kumpulan kata-kata yang mengandung arti yang sama, atau terjemahan kata dari dua bahasa atau lebih. Misalnya kamus bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan sebagainya. Isinya, memuat penjelasan lebih detail lagi dari suatu kata.
b)      Ensiklopedi
Ensiklopedi adalah buku yang berisi berbagai keterangan atau uraian ringkas tentang cerita-cerita, llmu pengetahuan yang disusun menurut abjad atau menurut lingkungan ilmu. Misalnya ensiklopedi satwa Indonesia, ensiklopedi raja-raja di Jawa, ensiklopedi flora & fauna Indonesia dan sebagainya.
            Ensiklopedi ini masuk kategori karya ilmiah karena bisa dijadikan referensi atau rujukan untuk menunjang atau melengkapi tulisan-tulisan ilmiah.

b.      Karya Ilmiah Penelitian
1.      Makalah seminar
a)      Naskah seminar
Naskah seminar adalah karya ilmiah berisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan disampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian atau pemikiran murni dari penulisnya dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar.
b)      Naskah bersambung
Naskah bersambung sebatas masih berdasarkan cirri-ciri penulisan ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Misalnya hasil penelitian yang ditulis secara bersambung, dimana antara tulisan pertama dengan tulisan selanjutnya masih saling terkait. Dua tulisan atau lebih yang mempunyai pokok bahasan sama dan diterbitkan dalam satu penerbitan, merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah. Penerbitan karya tulisan bersama ini seing disebut dengan jurnal karya ilmiah.
2.      Laporan hasil penelitian
Laporan adalah bagian dari bentuk karya tulis ilmiah yang cara penulisannya dilakukan relatif singkat. Biasanya laporan ini dilakukan oleh para penulis pemula, dimana materinya berasal dari kegiatan-kegiatan percobaan. Observasi, pelaksanaan kerja, dan sebagainya. Contoh : Laporan Praktikum Biologi, Laporan Kuliah Kerja Nyata, dan seterusnya. Laporan seperti ini bisa dikelompokkan sebagai karya tulis ilmiah karena berisikan hasil dari suatu kegiatan penelitian meskipun masih dalam tahap awal.
3.      Jurnal penelitian

Jurnal penelitian adalah buku yang berisi karya ilmiah terdiri dari hasil penelitian dan resensi buku. Penerbitan jurnal penelitian ini harus teratur (kontinyu) dan mendapatkan nomer dari perpustakaan nasional berupa ISSN (International Standard Serial Number).