Dalam menuliskan bagian-bagian karangan ilmiah,
sering kali terdapat kegamangan bagi para penulis pemula dalam mengungkapkan
gagasan pada setiap bagian karangan ilmiah. Marilah kita diskusikan
langkah-langkah atau cara penulisan setiap bagian karya tulis ilmiah.
Pada umumnya struktur karangan ilmiah terdiri atas
tiga bagian. Bagian yang dimaksud adalah: (1) bagian pendahulu karangan yang
menyajikan latar belakang masalah penulisan atau kajian, diikuti oleh bagian
permasalahan atau rumusan masalah, dan
menyajikan maksud dan tujuan kajian dan penulisan, (2) bagian isi
karangan yang merupakan pernyataan dan pengembangan gagasan utama, bagian ini
merupakan bagian karangan yang sesungguhnya karena selain berisi uraian
pengembangan gagasan utama, juga berisi pemecahan masalah yang diungkapkan pada
bagian pendahulu karangan, (3) bagian penutup karangan merupakan bagian
simpulan yang harus memagut gagasan utama yang dituangkan dalam isi karangan.
Simpulan dapat berupa ringkasan dari solusi yang diuraikan dalam bagian isi
karangan yang disertai saran atau rekomendasi dari hasil pembahasan.
Selain ketiga bagian utama karya tulis ilmiah
sebagaimana diungkapkan di atas, terdapat pula bagian pelengkap karangan
ilmiah. Bagian pelengkap memiliki peranan penting pula dalam karangan ilmiah
sebagai penguat gagasan yang disajikan penulis. Unsur-unsur atau bagian-bagian
pelengkap karangan ilmiah terdiri atas: judul dan halaman judul, daftar isi,
pendahuluan umum, tubuh uraian, ucapan terima kasih, dan pengakuan meminjam
material, daftar pustaka, dan lampiran (Brotowidjojo, 1993: 99-120). Apabila
diperinci kembali bagian-bagian yang terdapat dalam karya tulis ilmiah,
terdapat pula bagian pendukung argument, diantaranya daftar, tabel, grafik,
gambar, dan kepustakaan.
A. Abstrak
Pada karangan Ilmiah terdapat bagian yang dinamakan
Abstrak. Abstrak disajikan pada awal karangan ilmiah, sebelum bagian kata
pengantar. Sebagaimana namanya, bagian ini merupakan bagian yang abstrak. Oleh
karena itu penyajian bagian disajikan kata-kata dan kalimat-kalimat yang
megabstraksi dari penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada bagian ini
tidak digunakan data atau angka sebagai fakta, melainkan uraian abstrak tentang
hasil penelitian atau kajian yang disajikan dalam tulisan.
Dalam pengertian yang sederhana, abstrak merupakan
penggambaran secara maya suatu fakta. Abstrak merupakan penggambaran dengan
kata-kata dari suatu fakta. Misalnya, dalam kajian diketahui bahwa kinerja para
pegawai dipengaruhi oleh kesejahteraan yang diberikan suatu perusahaan. Maka,
semakin baik kesejahteraan yang diberikan perusahaan, akan semakin baik pula
kinerja para pegawai. Pengaruh kesejahteraan kinerja dan peningkatan kinerja
pegawai tersebut tidak dapat diamati secara nyata. Oleh karena itu, sajian di
muka merupakan sajian abstrak dari suatu fakta hasil kajian atau penelitian
Bagian
abstrak karangan ilmiah disajikan dalam bentuk ringkas dan singkat. Bagian ini
hanya terdiri atas satu halaman dan ditulis dalam satu spasi. Pada bagian ini
tidak terdapat identitas penulis, karena merupakan bentuk abstrak dari
penelitian atau kajian yang telah dilakukan. Pada jenis tulisan ilmiah lain,
sering digunakan kata kunci (key words) yang biasanya hanya terdiri atas
tiga hingga empat kata yang esensi dari karangan ilmiah tersebut.
B. Kata Pengantar
Dalam
menuliskan karangan ilmiah, bagian kata pengantar termasuk bagian yang sering
disajikan. Pada karangan ilmiah berupa artikel atau karangan ilmiah populer
biasanya bagian ini diabaikan karena teknis penulisan yang berbeda, tetapi
dalam karangan ilmiah yang lain bagian ini sering digunakan.
Berdasarkan
hakikatnya, kata pengantar merupakan bagian yang mengantar pembaca pada isi
argumen yang terdapat dalam karangan ilmiah. Dengan demikian, kata pengantar
bukan hanya berisi ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang dipandang
telah memberikan kontribusi pada karangan ilmiah yang disusun. Bahkan, pada
karangan karya ilmiah berupa tesis dan disertasi bagian kata pengantar dan
bagian ucapan terima kasih disajikan dalam dua bagian yang berbeda. Pada kata
pengantar seharusnya disajikan antaran materi atau gambaran umum tentang bahasa
karangan ilmiah.
Bagian
kata pengantar selalu ditulis pada halaman tersendiri. Bagian ini bukan
merupakan bagian karangan yang bergabung dengan bagian lain. Dalam teknis
penulisannya bagian kata pengantar ilmiah selalu menempatkan pada bagian awal
karangan, yang ditempatkan sebelum daftar isi. Pada akhir bagian kata
pengantar, di sebelah kanan biasanya dicantumkan tempat dan tanggal serta nama
penulis karangan ilmiah tersebut.
C. Daftar isi
Bagian
daftar isi dalam karangan ilmiah merupakan pemandu bagi pembaca. Daftar isi
berfungsi sebagai petunjuk isi (Brotowidjojo, 1993: 106). Bagian isi berisi
susunan dan urutan isi karangan ilmiah yang dilengkapi nomor halamannya. Bagian
daftar isi memuat daftar seluruh bagian yang terdapat dalam karya ilmiah.
Selain itu, penulisan halaman pun harus tepat sehingga bagian ini dapat
berfungsi dengan baik sebagai pemandu pembaca karangan ilmiah. Pembaca karangan
ilmiah akan membuka bagian yang ingin dibacanya berdasarkan halaman yang
dicantumkan dalam daftar isi.
Penulisan
bagian daftar isi dalam karangan ilmiah ditempatkan setelah bagian kata
pengantar. Bagian ini ditulis pada halaman tersendiri, sehingga bukan merupakan
kelanjutan dari bagian yang lain atau dilanjutkan oleh bagian lain. Penulisan
kata dan besar kecilnya huruf dari bab dan sub bab yang dicantumkan dalam
daftar isi harus sama seperti kata atau huruf yang tercantum di dalam isi
karangan ilmiah. Pada beberapa contoh karya ilmiah di bagian kanan atas dari
daftar isi ini menggunakan kata “halaman”, tetapi tanpa itu pun angka-angka
dibagian kanan itu menunjukkan halaman dari daftar isi karangan ilmiah.
Dalam
karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi selain terdapat bagian
daftar isi, terdapat pula bagian daftar tabel, daftar gambar, dan daftar
lampiran. Ketiga bagian ini kehadirannya bergantung pada isi karangan ilmiah
tersebut. Jika pada karangan ilmiah terdapat bagian-bagian yang dimaksud, maka
dicantumkan di dalam daftar tersendiri yang penempatannya setelah daftar isi.
Penulisan bagian-bagian daftar tersebut sebagaimana bagian daftar isi menggunakan
halaman tersendiri atau tidak digabungkan dengan bagian lainnya.
D.
Pendahuluan
Bagian
pendahuluan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang mengungkapkan posisi
suatu masalah dan perlunya kajian atau penelitian dilakukan. Bagian ini mengungkapkan
informasi dan tentang permasalahan penelitian atau kajian. Oleh karena itu,
dalam karangan ilmiah berbentuk skripsi, tesis, dan disertasi biasanya dalam
bagian ini terdapat latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian atau kajian, asumsi dan hipotesis penelitian
(jika penelitiannya berhipotesis), kerangka pikir penelitian atau paradigma
penelitian.
Pada
karangan ilmiah populer, artikel, laporan buku, atau makalah biasanya
aspek-aspek diatas diungkapkan dengan tanpa menggunakan pembagian secara tegas
atas aspek-aspek tersebut. Pada dasarnya, bagian pendahuluan dalam karangan
ilmiah menyajikan posisi masalah yang memerlukan kajian atau penelitian.
Berikut
bagian bagian yang biasanya tercantum dalam pendahuluan :
1.
Latar Belakang
Masalah
Aspek
latar belakang masalah bagian pendahuluan biasanya deskripsi tentang kedudukan
masalah tersebut. Latar belakang masalah biasanya mendeskripsikan mengapa
masalah itu ada dan timbul berdasarkan analisis penulis atau mengapa suatu hal
dianggap masalah oleh penulis. Latar belakang masalah merupakan paparan tentang
adanya ketimpangan antara suatu ketentuan dengan kenyataan. Berdasarkan paparan
tersebut, biasanya disertai dengan
mengapa masalah itu penting untuk dikaji atau diteliti,baik berimplikasi pada
perkembangan ilmu atau pada kepentingan pembangunan.
Latar
belakang masalah merupakan bagian masalah yang membuat penyusun gelisah dan
resah jika masalah tersebut tidak dikaji atau diteliti. Pada bagian ini
diungkapkan kedudukan masalah yang akan dikaji atau diteliti dan posisi masalah
tersebut dalam persepektif keilmuan penyusun.
Penyajian latar belakang dilakukan dengan cara
mengkonfrontasi antara teori-teori atau konsep-konsep dengan fenomena yang
terjadi. Penyajian bagian ini dapat pula dilakukan dengan mengungkap suatu
ketentuan, pedoman, peraturan yang seharusnya dilaksanakan, tetapi kenyataannya
tidak sehingga menimbulkan suatu masalah. Bagian ini dapat pula berupa
penyajian prediksi logis terhadap sesuatu yang dianggap sebagai penyebab dari
suatu fenomena yang menimbulkan masalah.
2.
Rumusan
Masalah
Bagian
rumusan masalah merupakan bagian yang menjelaskan permasalahan yang akan dikaji
atau diteliti. Rumusan masalah dalam karangan ilmiah biasanya disajikan dalam
bentuk kalimat introgatif atau kalimat tanya. Namun, pertanyaan dalam rumusan
masalah misalnya “apakah atau bagaimanakah”. Apakah penyusun karangan ilmiah
memandang rumusan masalah dalam penelitian yang akan dilakukan perlu diperinci
kembali ke dalam bagian yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan menurunkan
rumusan masalah ke dalam bagian yang lebih terperinci.
Contoh
rumusan masalah:
1.
Apakah ciri-ciri penting dari suatu buku
yang ditetapkan sebagai buku pelajaran yang memilki keterbacaan yang tinggi?
2.
Jenis pengukuran keterbacaaan manakah
yang dapat digunakan dalam menentukan keterbacaan sutu buku pelajaran untuk
sekolah dasar?
Bagian
rumusan masalah pada kajian atau penelitian yang memiliki multi variabel,
biasanya penyajiannya dikaitkan dengan variabel-variabel yang akan diteliti
atau dikaji dan merumuskan kaitan antar variabel yang akan dibertemalikan.
Bahkan, penyusun karangan ilmiah yang cermat akan merumuskan masalah
pertanyaan-pertanyaan indikator dari setiap variabel yang diteliti atau dikaji.
Rumusan
masalah dalam karangan ilmiah juga berfungsi sebagai pemandu bagi penulis untuk
mencari tahu dan mencari jawaban atas masalah yang dirumuskan itu. Rumusan
masalah juga dapat membimbing pembahasan dalam karya ilmiah, sehingga
pengupasan fakta atau temuan dimaksudkan untuk menjawan rumusan tersebut.
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Aspek
manfaat dan tujuan penelitian dalam bagian pendahuluan karangan ilmiah biasanya
berseiring dengan rumusan masalah. Tujuan penelitian disajikan untuk
mengeksplisitkan arah penelitian pada target yang harus didapatkan dari suatu
kajian atau penelitian. Dalam jenis karangan ilmiah laporan penelitian,
biasanya tujuan penelitian diarahkan pada pemecahan masalah-masalah praktis yang
menjadi ketimpangan atau problematika. Demikian pula dengan manfaat penelitian,
biasanya dipecah ke dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat
teoritis diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan manfaat
praktis dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Penulisan
subbab tujuan dan manfaat penelitian biasanya digabungkan. Kemudian subbab
tersebut, dipecah kembali ke dalam dua bagian kecil jika penyusun karangan
ilmiah menggunakan terminologi itu secara berbeda.
4. Hipotesis Penelitian
Hipotesis ilmiah
mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang a
kan diteliti. Hipotesis
menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan
hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian
hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan
suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen.
Hipotesis yang telah teruji kebenarannya
disebut teori.
Hipotesis
penelitian dalam karangan ilmiah diungkapkan secara lugas, singkat , dan padat.
Pernyataan hipotesis mendorong pembuktian dalam pengolahan data. Apabila
hipotesis terdiri atas hipotesis utama dan hipotesis turunan, maka penyajiannya
diungkapkan berdasarkan hipotesis utama.
Contoh Hipotesis
Penelitian:
“Terdapat hubungan
yang signifikan antara kinerja pegawai dengan kesejahteraan yang diterima dan
kualitas pengawasan yang dilakukan.”
“Kemampuan membaca
siswa berpengaruh terhadap kemampuan menuangkan gagasan secara lisan dan
tulisan.”
Hipotesis
penelitain dalam karangan perlu dibuktikan melalui serangkaian pengujian
indikator. Pembuktian hipotesis sangat bergantung pada kecermatan di dalam
pengolahan data. Dari pembuktian, baik diterima atau ditolak hipotesis yang
telah ditetapkan harus dilanjutkan pada pembahasan.
E.
Landasan Teori
Bagian
landasan teori dalam karangan ilmiah ditempatkan pada bagian kedua, setelah
bagian pendahuluan. Penggunaan judul bagian ini telah disesuaikan dengan isi utama yang
disajikan. Meskipun demikian, biasanya pada suatu lembaga pendidikan inggi
biasanya dianut konvensi yang sering dilakukan para penyusun karangan ilmiah.
Pada institusi tertentu ada konvensi yang menjudulinya bagian ini dengan
“Landasan Teori”, tetapi pada institusi lain ada konvensi dalam menjuduli
bagian tersebut dengan konsep teori utama dari serangkaian teori
yang disajikan pada bagian itu.
Landasan teori
merupakan deskiripsi lengkap teori-teori yang digunakan. Setiap teori yang
bertemali dikupas dalam bagian ini dan disusun menjadi sebuah rangkaian argumen
keilmuan. Bagian landasan teori merupakan serangkaian argumen keilmuan yang
diaransemen. Penyusun karangan ilmiah akan menyusun argumennya dengan dilandasi
oleh serangkaian teori, untuk menyusun bagian ini diperlukan kemampuan bernalar
penulis dalam menghubungkan teori.
Bagian demi bagian
dalam landasan teori disusun dalam suatu penyusunan argumen. Sususan ini
biasanya tampak dalam daftar isi suatu karangan ilmiah
Penulisan
kutipan atau rujukan sebagai teori dalam bagian landasan teori mengikuti pola yang
baku. Penyusun karangan ilmiah harus konsisten dalam menggunakan sistem
penulisan kutipan atau rujukan. Konsistensi ini menunjukkan sikap ilmiah dari
seseorang penyusun karangan ilmiah. Landasan teori bukan merupakan tumpukan
teori yang digunakan dalam karangan ilmiah, melainkan rangkaian argumen yang
ditopang oleh teori. Untuk menyusun ini diperlukan kemampuan meramu dan
mengikatkan teori dengan argumen.
F.
Metode Penelitian
Bagian
metode penelitian merupakan bagian yang penting, khususnya bagi karangan ilmiah
jenis skripsi, tesis, dan disertasi atau laporan penelitian. Pada ketiga
jenis tersebut, bagian ini disajikan setelah landasan teori.
Pada bagian metode dan
prosedur penelitian biasanya berisi hal-hal berikut:
1. Rancangan atau desain
penelitian
2. Variabel penelitian atau fokus
kajian
3. Langkah-langkah penelitian
4. Sumber data atau populasi dan
sampel
5. Tempat dan waktu penelitian
6. Sumber data atau populasi
7. Pengolahan data, dan
8. Validasi penelitian
G.
Pembahasan
Bagian pembahasan
dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang jumlahnya paling mendominasi
karangan ilmiah. Kekuatan karangan ilmiah akan ditunjukkan oleh keandalan
peneliti dalam menyajikan bagian pembahasan. Dalam jenis karangan artikel atau
makalah untuk jurnal atau pertemuan ilmiah biasanya bagian ini merupakan bagian
yang tampak sebagai bagian yang dari jumlah bagiannya mendominasi karangan
ilmiah. Pada karangan ilmiah jenis skripsi yang menggunakan pendekatan
kuantitatif, biasanya sering terabaikan manakala peneliti telah membuktikan
hipotesis. Padahal, seharusnya pada bagian pembahasan ini penulis
mendiskripsikan data empiris dengan berbagai konsep teoritis yang dijadikan
landasan penelitian.
Penulis
karangan ilmiah yang andal akan memandang bagian pembahasan merupakan bagian
inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian inti dari
argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian ini penyusun
menyodorkan argumen yang ditopang oleh pembuktian data empiris dan konsep
teoritis. Oleh karena itu, bagian ini merupakan kekuatan argumen ilmiah yang
disajikan dalam karangan ilmiah.
H.
Kesimpulan dan Saran
Bagian
simpulan dan saran merupakan bagian akhir dari karangan ilmiah. Bagian ini
harus merupakan pernyataan deklaratif sebagai jawaban dari rumusan masalah.
Penyajian bagian ini harus memiliki kesejalanan dengan bagian pendahuluan dan
pembahasan dalam karangan ilmiah.
Pada bagian
simpulan tidak lagi disajikan angka-angka pembuktian, jika penelitiannya
menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada bagian ini deiungkapkan makna dari
setiap pembuktian hipotesis yang merupakan deskripsi jawaban dari rumusan masalah
penelitian.
Bagian saran dalam karangan ilmiah merupakan
rekomendasi dari penelitian. Saran yang disajikan harus berdasarkan simpulan
penelitian, sehingga bukan merupakan pikiran atau pendapat penyusun tentang
suatu fenomena. Saran merupakan tindak lanjut atau suatu implementasi dari
penyelesaian sutu permasalahan yang disajikan berdasarkan hasil penelitian atau
kajian
Pada
dasarnya, dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap, yaitu:
1.
Persiapan;
2.
Pengumpulan data;
3.
Pengorganisasian dan pengonsepan;
4.
Pemeriksaan dan penyuntingan konsep;
5.
Penyajian dan pengetikan (Arifin, 2006)
A.
Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan hal yang dilakukan adalah
pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkannya. Topik/masalah adalah
pokok pembicaraan. Topik banyak tersedia dan melimpah di sekitar kita, misalnya
persoalan kemasyarakatan, pertanian, akuntansi, hukum, dan sebagainya.
Dalam hubungan dengan pemilihan topik yang hendak
diangkat ke dalam karya ilmiah, keraf (Keraf, 1980) berpendapat bahwa
penyusunan karya ilmiah lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian
dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui daripada menulis pokok-pokok
yang tidak menarik atau tidak diketahui sama sekali. Setelah topik ditentukan,
dalam tahap persiapan juga harus memperhatikan penentuan judul dan pembuatan
kerangka karangan.
B.
Pengumpulan Data
Jika judul karya ilmiah dan kerangkanya sudah
ditentukan, penyusun sudah dapat mulai mengumpulakan data. Langkah pertama yang
harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari informasi dari kepustakaan
mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul tulisan. Informasi yang
relevan diambil sarinya dan dicatat pada kartu informasi. Disamping pencarian
informasi dari kepustakaan, penyusun juga dapat mulai terjun kelapangan. Data
di lapangan dapat dikumpulkan melalui pengamatan (observasi), wawancara, atau
eksperimen (percobaan).
C.
Pengorganisasian/Pengonsepan
Jika data sudah terkumpul, penyusun menyeleksi dan
mengorganisasi data tersebut. Penyusun harus menggolong-golongkan data menurut
jenis, sifat, dan bentuk. Penyusun menentukan data mana yang akan dibicarakan
kemudian. Jadi, penyusun harus mengolah dan menganalisis data yang ada dengan
teknik-teknik yang ditentukan. Misalnya jika penenlitian kuantitatif, data
diolah dan dianalisis dengan teknik statistik. Selanjutnya, penyusun dapat
mulai mengonsep karya ilmiah dengan urutan yang diterapkan.
D.
Pemeriksaan/Penyuntingan
Sebelum mengetik konsep, penyusun terlebih dahulu
memeriksanya. Tentu ada bagian yang tumpang tindih atau bagian yang
berulang-ulang. Buanglah penjelasan yang tidak perlu dan tambahkan penjelasan
yang dirasakan sangat menunjang pembahasan. Secara singkat, pemeriksaan konsep
mencakupi pemeriksaan isi karya dan cara penyajian karya, temasuk penyuntingan
bahasa yang digunakan untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif,
contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuian kalimat, penyesuian
paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.
E.
Tahap Penulisan Data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah:
1.
Pencarian keterangan dari bahan bacaan
atau referensi.
2.
Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak
yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
3.
Pengamatan langsung (observasi) ke objek
yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.
4.
Melakukan percobaan di laboratorium atau
pengujian data di lapangan.
F.
Tahap Penyajian
Pada tahap penyajian karya ilmiah ini harus
memperhatikan hal-hal berikut:
1.
Segi kerapian dan kebersihan.
2.
Tata letak (layout) unsur-unsur
dalam format karya ilmiah, misal pada halaman pembuka, halaman judul, daftar
isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka, dan lain-lain.
3.
Memakai standar yang berlaku dalam
penulisan karya ilmiah, misal satandar penulisan kutipan, catatan kaki, daftar
pustaka, dan penggunaan bahasa sesuai EYD