SEJARAH PERTUMBUHAN MAZHAB
A. Pengertian Mazhab
Menurut
bahasa arab, “mazhab” berasal dari
kata shighah mazdar mimy yang menunjukkan keterangan tempat dari akar kata fill
madhy “dzahaba” yang bermakna pergi. Jadi mazhab itu secara bahasa artinya
tempat pergi, yaitu jalan (ath- thariq).
Sedangkan
menurut istilah ada beberapa rumusan:
1. Menurut
M Husain Abdullah, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa
hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta
bebagai kaidah (qawa’id) dan landasan (ushul) yang mendasari pendapat tersebut,
yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
2. Menurut
A. Hasan, mazhab adalah mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang hukum
suatu masalah atau tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah
istinbathnya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan mazhab adalah pokok pikiran atau dasar
yang digunakan oleh Imam mujtahid dalam memecahkan masalah; atau
mengistinbathkan hukum Islam. Disini bisa disimpulkan pula bahwa mazhab
mencakup; (1) sekumpulan hukum hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid;
(2) ushul fiqh yang menjadi jalan (thariq) yang ditempuh mujtahid itu untuk
menggali hukum-hukum Islam dalil-dalilnya yang rinci.
Dengan demikian, kendatipun mazhab itu
berupa hukum-hukum syariat (fiqh), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya
juga mencakup ushul fiqh yang menjadi meode penggalian untuk melahirkan
hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab syafi’i.
B.
Sejarah
Munculnya Mazhab Dalam Islam
Sebenarnya
mazhab telah ada di masa sahabat, hal ini terjadi antara lain karena perbedaan
pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada
mereka, selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak
sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hokum dan
berlainan tempat. Sebagaimana diketahui, bahwa ketika agama Islam telah
tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yeng telah pindah tempat
dan berpencar-pencar ke Negara yang baru tersebut. Dengan demikian, kesempatan
untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar
dilaksanakan. Sejalan dengan pendapat di atas, Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan
bahwa faktor-faktor yang menyebabkan mazhab di kalangan sahabat ada tiga yakni
:
1. Perbedaaan
para sahabat dalam memahami nash-nash al-Qur’an
2. Perbedaan
para sahabat disebabkan perbedaan riwayat
3. Perbedaan
para sahabat disebabkan karena ra’yu (pendapat)
Sementara
Jalaluddin Rahmat melihat penyebab mazhab dari sudut pandang yang berbeda, Ia
berpendapat bahwa salah satu sebab utama di antara para sahabat prosedur
penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman
Rasulullah SAW. Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan masa
Tabiin, munculah generasi Tabiit Tabiin. Ijtihad para sahabat dan Tabiin
dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang tersebar di berbagai
daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu itu. Generasi ketiga ini dikenal
dengan Tabiit Tabiin. Didalam sejarah
dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad kedua hijriah, di mana
islam dipegang oleh Daulah Abbasiyah.
Masa
Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah
The Golden Age. Pada masa itu, umat
Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban,
dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu
pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa
asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan
cendekiawan-cendekiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di
berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani
Ummayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena
landasannya telah dipersiapkanoleh Daulah Bani Umayyah yang besar. Periode ini
dalam sejarah hukun Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqih
Islam, di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh
tokoh-tokoh fiqih agung yang berjasa mengintergrasikan fiqih Islam dan
meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama
fiqih sampai sekarang.
C.
Mazhab
yang Masih Berkembang
a.
Mazhab
Hanafi (80-150 H.)
Mazhab Hanafi dinisbahkan kepada pengasas mazhab
tersebut yaitu Imam Nu’man bin Tsabit al-Kufi al-Hanafi. Beliau lahir di Kufah,
Iraq dari keturunan Parsi pada 80 H. dan meninggal 150 H. beliau memulakan
kehidupannya sebagai peniaga sutera, akan tetapi berpindah untuk menuntut ilmu
dan berguru dengan ulama-ulama terkenal pada masa itu seperti al-Syaikh Humad
bin Abi Sulaiman yang telah mewarisi ilmu dari Abdullah bin Mas’ud seorang
sahabat yang terkenal dalam bidang fiqih dan Ra’yi. Selain dari itu Abu Hanifah
juga berguru dengan imam Za’id bin Ali Zainal Abidin, Ja’far Al-Sadiq, dll.
Imam Abu Hanifah banyak dikritik ulama selain
dikatakan telah mengutamakan pendapat (ra’yu) daripada hadith, hal ini dibantah
oleh sebagian ulama bahwa beliau lebih banyak menggunakan pendapatnya sendiri
daripada hadith karena pada masa itu penipuan hadith sangat berleluasa dan
beliau takut terambil hadith yang palsu.
Manhaj Abu Hanifah dalam fiqih jelas, beliau akan
mengembalikan segala persoalan kepada Al-Qur’an kemudian Al-Sunnah lalu Aqwal al-Sahabah yaitu pendapat para
sahabat Nabi. Adapun apabila perkara tersebut tidak pernah dibincangkan
sebelumnya maka beliau akan berijtihad, yaitu dengan mengikut metode Qiyas dan Istihsan. Ijthad telah dibenarkan sejak zaman Nabi lagi, ketika
Rasulullah SAW. mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya, Bagaimana
cara engkau dalam berhukum? , dengan merujuk kepada Kitab Allah, Rasulullah, ,
bagaimana kalau tidak ada, maka aku akan berijtihad dengan betul. Dalam hadis
yang lain Nabi bersabda : Apabila seorang mujtahid berijtihad dan betul
ijtihadnya maka dia akan mendapat dua pahala, apabila salah dia akan mendapat
satu pahala.
Diantara murid Abu Hanifah yang terkenal adalah Abu
Yusuf, Muhammad bin Hasan, merekalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan
Mazhab Hanafidan memperkuat kedudukan Mazhab tersebut. Adapun kitab-kitab yang
terkenal dalam Mazhab Hanafi ialah Kitab al-Kafi oleh imam Muhammad bin
Muhammad al-Marwazi dan Kitab al-Mabsut oleh imam Muhammad bin Ahmad
al-Sarkhasi. Dengan adanya dukungan ulama-ulama tersebutmaka tersebar luaslah
Mazhab Hanafi dan ianya telah menjadi Mazhab resmi bagi Khalifah Osmaniyah di
Turki.
Dasar-dasar Mazhab Abu Hanafiah
Abu Hanafiah adalah seorang imam
yang terkemuka dalam bidang qiyas dan ihtisan. Beliau menggunakan qiyas dan
ihtisan apabila beliau tidak memperoleh nash dalam kitabullah, sunnatur rasul,
atau ijma.
Maka dalam memperhatikan
jalan-jalan yang ditempuh Abu Hanafiah untuk beristinbat, nyatalah bahwa
dasar-dasar hukum fiqih dalam mazhabnya ialah :
1)
Al-kitab
2)
As-Sunnah
3)
Al-Ijma
4)
Al-Qiyas
5)
Al-Ihtisan
Pada masa sekarang ini mazhab Hanafi adalah
Mazhab resmi Negara Mesir, Turki, Syiria, dan Libanon. Dan mazhab inilah yang
digunakan sebagian besar penduduk Afghanistan, Pakistan, Turkistan, India, dan
Tiongkok. Lebih sepertiga ummat Islam di dunia ini yang menganut Mazhab Hanafi.
b. Mazhab Maliki (93-179 H.)
Imam
Malik bin Anas al-Asbahi, berasal dari Yaman dan lahir di Madinah, dan tak
pernah meninggalkan Madinah kecuali untuk Haji, beliau lebih suka duduk
bersebelahan dengan Nabi, walaupun telah ditawarkan utu mendampingi Khalifah di
Baghdad. Beliau telah banyak berguru dengan para Tabiin, diantaranya ialah Ibn
al-Shihab al-Zuhri, Rabi’ah al-Ra’yi, Yahya ibn Said, Abdul Rahman bin Hurmuz,
dll. Beliau belajar dan mengajar di Masjid Nabawi dan diantara murid beliau adalah Imam Syafi’I, anak
Khalifah Harun al-Rasyid yaitu al-Amin dan al-Ma’mun, Abdullah bin Wahb, Abdul
Rahman bin al-Qasim, Abul Hasan al-Qurtubi, dll.
Imam
Malik telah menulis sebuah buku yang dinamakan al-Muwatta’. Buku ini
mengandungi Hadith-hadith yang Shahih dan Mursal, fatwa sahabat dan pendapat
para Tabiin juga mengandungi ijtihad beliau sendiri dalam bentuk Qiyas, Tafsir,
dan Tarjih. Beliau menulis buku tersebut dalam masa empat puluh tahun, ini
merupakan karya terbesar Imam Malikdan merupakan buku pertama dalam ditulis
seumpamanya, setelah al-Qur’an dan Hadith. Al-Muwatta’ ingin dijadikan kitab
dan mazhab resmi bagi Khalifah Abbasiah masa itu, tetapi Imam Malik dengan tawadu’ menolak permintaan
tersebut. Selain al-Muwatta’ kitab yang terkenal dalam mazhab Maliki adalah
al-Mudawwanah yang ditulis oleh murid-murid beliaudan menjadi pegangan resmi
pemerintah Umawiyyah di Andalus / Spain.
Dasar-dasar
Mazhab Maliki
Al-qadli
‘iyadl dalam kitab al-Madrik berkata : “Malik mendahulukan Kitabullah menurut
tertib samarnya, yakni mendahulukan Nash, kemudian yang Dhahir, kemudian yang
Mafhum, sesudah itu beliau berpegang pada as-Sunnah. Dalam hal ini beliau
mendahulukan yang mutawatir atas yang masyhur, yang masyhur atas yang ahad,
sebagaimana beliau mendahulukan yang nash atas yang dhahir dan yang dhahir atas
yang mafhum. Sesudah itu beliau berpegang pada ijma’ baru beliau berpegang pada
Qiyas.
Dalam
hal ini Imam Malik tidak terlalu berpegang kepada Qiyasyang diberikan oleh Abu
Hanafiah, dan terkadang-kadang beliau mendahulukan amalan ulama-ulama Madinah
atas hadis Ahad.
c. Mazhab al- Syafi’I (150-204 H.)
Imam
Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’I, mempunyai nasab yang bertemu dengan
Rasulullah yaitu dengan datuk beliau yang bernama Abd Manaf. Beliau lahir di
Gazzah, Palestina, dan wafat di Mesir. Menimba ilmu di Mekkah sampai berumur 15
tahun dan diberikan izin berfatwa, kemudian beliau pindah ke Madinah berguru
dengan Imam Malik sampai wafat, lalu mengembara ke Yaman untuk berguru dengan
Yahya bin Hasan murid Imam al-Auza’I, beliau ditangkap pada tahun 184 H. karena
didakwa menentang pemerintahan Abbasiyah dan dibawa ke Baghdad disinilah beliau
bertemu dengan Imam Muhammad al-Syaibani dari Mazhab Hanafi, beliau terus
mengembara untuk belajar dan mengembangkan ilmunya sampailah akhirnya beliau
mukim di Mesir pada tahun 199 H dan meninggal pada tahun 204 H.
Oleh
karena Imam Syafi’I banyak mengembara dalam menuntut ilmu maka mazhabnya juga
merupakan kombinasi dari beberapa madrasah / pemikiran dan kecenderungan
beliaumengambil sikap tengah antara madrasah
ahlul hadith (menolak ijtihad-qiyas) dan madrasah ahlul ra’yi (menolak hadis ahad) , beliau tidak menolak hadith
ahad yang sahih, dan dan menolak hadith mursal yang bukan oleh kibar Tabiin dan
beliau menggunakan metode Qiyas dalam ijtihadnya, ini berarti beliau seorang
pro ahlul hadith dalam masa yang sama pro ahlul ra’yi.
Beliau
adalah seorang ahli hadith yang banyak menghafal hadith dan dalam kaidah
fiqihnya hadith adalah sebagai sharih, muqayyid, mufassil, dan mukhassis kepada
al-Qur’an, sumber ketiga setelah al-Qur’an dan Sunnah adalah Ijma’ dan kemudian
aqwal al-Sahabah. Dan yang terakhir
adalah Qiyas dengan ini beliau menolak Istislah atau amal ahli madinah.
Imam
Syafi’I menulis buku tentang Usul fiqih, kitabnya ar-Risalah adalah kitab
pertama yang membincangkan tentang ilmu itu, dan kitab kedua adalah kitab
al-Umm yang khusus membicarakan tentang mazhabnya dalam fiqih. Diantara murid
beliau yang tersebar di Iraqdan Mesir adalah: al-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi,
al-Hasan bin Muhammad al-Za’farani, Abu Ali Husein bin Ali al-Karabisi, Isma’il
bin Yahya al-Muzni, Abu Ya’kub al-Buwaiti dan Imam Nawawi. Mazhab beliau pernah
menjadi mazhab resmi di Mesir dan di Negara-negara Asia.
d. Mazhab Hanbali (164-241 H.)
Imam
Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibani lahir di Baghdad dan mengembara
ke Mekkah, Madinah, Syam, Yaman, dan lain-lain untuk menuntut ilmu dan berguru,
dan diantara guru beliau adalah Imam Syafi’I. Beliau amat arif dalam ilmu
sunnah, dan berjaya menghasilkan sebuah
Musnad yang mengandungi lebih daripada 40.000 hadith.
Dalam mazhabnya beliau berpegang pada
lima Usul (Kaidah/Methodology) : 1. Nash dari al-Qur’an dan Sunnah, 2. Fatwa
sahabat, 3. Ijtihad sahabat yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah, 4.
Mengambil Hadith Mursal dan Dha’if dan lebih diutamakan daripada Qiyas,
khususnya dalam hal yang berkaitan fadhail
a’mal (sunnat) 5. Qiyas sebagai langkah terakhir.
Imam
Ahmad tidak pernah menulis buku tentang mazhabnya, akan tetapi murid-murid
beliau mengumpulkan pendapat-pendapatnya, maka lahirlah buku al-Jami’ oleh
Ahmad bin Muhammad al-Khilal dan buku al-Mukhtasar al-Khirqi oleh Abul Qasim
Umar bin Husein al-Khirqi dan Sharah buku tersebut oleh Ibn Qudamah al-Maqdisi
yang dinamakan al-Mughni. Diantara pengikut beliau ialah Imam Ibn Taymiyah dan
Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah.
Mazhab-mazhab
yang telah musnah, diantaranya :
a.
Mazhab al-Auzai
b.
Mazhab al-Zhahiry
c.
Mazhab al-Thabary
d.
Mazhab al-Laitsi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar