pages

Senin, 27 November 2017

SEJARAH PERTUMBUHAN MAZHAB

SEJARAH PERTUMBUHAN MAZHAB

A.  Pengertian Mazhab
Menurut bahasa arab, “mazhab” berasal dari kata shighah mazdar mimy yang menunjukkan keterangan tempat dari akar kata fill madhy “dzahaba” yang bermakna pergi. Jadi mazhab itu secara bahasa artinya tempat pergi, yaitu jalan (ath- thariq).
Sedangkan menurut istilah ada beberapa rumusan:
1.      Menurut M Husain Abdullah, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta bebagai kaidah (qawa’id) dan landasan (ushul) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
2.      Menurut A. Hasan, mazhab adalah mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang hukum suatu masalah atau tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbathnya.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan mazhab adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh Imam mujtahid dalam memecahkan masalah; atau mengistinbathkan hukum Islam. Disini bisa disimpulkan pula bahwa mazhab mencakup; (1) sekumpulan hukum hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fiqh yang menjadi jalan (thariq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dalil-dalilnya yang rinci.
Dengan demikian, kendatipun mazhab itu berupa hukum-hukum syariat (fiqh), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya juga mencakup ushul fiqh yang menjadi meode penggalian untuk melahirkan hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab syafi’i.

B.   Sejarah Munculnya Mazhab Dalam Islam
Sebenarnya mazhab telah ada di masa sahabat, hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka, selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hokum dan berlainan tempat. Sebagaimana diketahui, bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yeng telah pindah tempat dan berpencar-pencar ke Negara yang baru tersebut. Dengan demikian, kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan. Sejalan dengan pendapat di atas, Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan mazhab di kalangan sahabat ada tiga yakni :
1.      Perbedaaan para sahabat dalam memahami nash-nash al-Qur’an
2.      Perbedaan para sahabat disebabkan perbedaan riwayat
3.      Perbedaan para sahabat disebabkan karena ra’yu (pendapat)

Sementara Jalaluddin Rahmat melihat penyebab mazhab dari sudut pandang yang berbeda, Ia berpendapat bahwa salah satu sebab utama di antara para sahabat prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan masa Tabiin, munculah generasi Tabiit Tabiin. Ijtihad para sahabat dan Tabiin dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang tersebar di berbagai daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu itu. Generasi ketiga ini dikenal dengan Tabiit Tabiin.  Didalam sejarah dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad kedua hijriah, di mana islam dipegang oleh Daulah Abbasiyah.
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah The Golden Age. Pada masa itu, umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendekiawan-cendekiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Ummayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkanoleh Daulah Bani Umayyah yang besar. Periode ini dalam sejarah hukun Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqih Islam, di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqih agung yang berjasa mengintergrasikan fiqih Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqih sampai sekarang.

C.   Mazhab yang Masih Berkembang
a.      Mazhab Hanafi (80-150 H.)

Mazhab Hanafi dinisbahkan kepada pengasas mazhab tersebut yaitu Imam Nu’man bin Tsabit al-Kufi al-Hanafi. Beliau lahir di Kufah, Iraq dari keturunan Parsi pada 80 H. dan meninggal 150 H. beliau memulakan kehidupannya sebagai peniaga sutera, akan tetapi berpindah untuk menuntut ilmu dan berguru dengan ulama-ulama terkenal pada masa itu seperti al-Syaikh Humad bin Abi Sulaiman yang telah mewarisi ilmu dari Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat yang terkenal dalam bidang fiqih dan Ra’yi. Selain dari itu Abu Hanifah juga berguru dengan imam Za’id bin Ali Zainal Abidin, Ja’far Al-Sadiq, dll.

Imam Abu Hanifah banyak dikritik ulama selain dikatakan telah mengutamakan pendapat (ra’yu) daripada hadith, hal ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa beliau lebih banyak menggunakan pendapatnya sendiri daripada hadith karena pada masa itu penipuan hadith sangat berleluasa dan beliau takut terambil hadith yang palsu.

Manhaj Abu Hanifah dalam fiqih jelas, beliau akan mengembalikan segala persoalan kepada Al-Qur’an kemudian Al-Sunnah lalu Aqwal al-Sahabah yaitu pendapat para sahabat Nabi. Adapun apabila perkara tersebut tidak pernah dibincangkan sebelumnya maka beliau akan berijtihad, yaitu dengan mengikut metode Qiyas dan Istihsan. Ijthad telah dibenarkan sejak zaman Nabi lagi, ketika Rasulullah SAW. mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya, Bagaimana cara engkau dalam berhukum? , dengan merujuk kepada Kitab Allah, Rasulullah, , bagaimana kalau tidak ada, maka aku akan berijtihad dengan betul. Dalam hadis yang lain Nabi bersabda : Apabila seorang mujtahid berijtihad dan betul ijtihadnya maka dia akan mendapat dua pahala, apabila salah dia akan mendapat satu pahala.

Diantara murid Abu Hanifah yang terkenal adalah Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, merekalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan Mazhab Hanafidan memperkuat kedudukan Mazhab tersebut. Adapun kitab-kitab yang terkenal dalam Mazhab Hanafi ialah Kitab al-Kafi oleh imam Muhammad bin Muhammad al-Marwazi dan Kitab al-Mabsut oleh imam Muhammad bin Ahmad al-Sarkhasi. Dengan adanya dukungan ulama-ulama tersebutmaka tersebar luaslah Mazhab Hanafi dan ianya telah menjadi Mazhab resmi bagi Khalifah Osmaniyah di Turki.






Dasar-dasar Mazhab Abu Hanafiah
Abu Hanafiah adalah seorang imam yang terkemuka dalam bidang qiyas dan ihtisan. Beliau menggunakan qiyas dan ihtisan apabila beliau tidak memperoleh nash dalam kitabullah, sunnatur rasul, atau ijma.

Maka dalam memperhatikan jalan-jalan yang ditempuh Abu Hanafiah untuk beristinbat, nyatalah bahwa dasar-dasar hukum fiqih dalam mazhabnya ialah :

1)      Al-kitab
2)      As-Sunnah
3)      Al-Ijma
4)      Al-Qiyas
5)      Al-Ihtisan

     Pada masa sekarang ini mazhab Hanafi adalah Mazhab resmi Negara Mesir, Turki, Syiria, dan Libanon. Dan mazhab inilah yang digunakan sebagian besar penduduk Afghanistan, Pakistan, Turkistan, India, dan Tiongkok. Lebih sepertiga ummat Islam di dunia ini yang menganut Mazhab Hanafi.


b.     Mazhab Maliki (93-179 H.)

            Imam Malik bin Anas al-Asbahi, berasal dari Yaman dan lahir di Madinah, dan tak pernah meninggalkan Madinah kecuali untuk Haji, beliau lebih suka duduk bersebelahan dengan Nabi, walaupun telah ditawarkan utu mendampingi Khalifah di Baghdad. Beliau telah banyak berguru dengan para Tabiin, diantaranya ialah Ibn al-Shihab al-Zuhri, Rabi’ah al-Ra’yi, Yahya ibn Said, Abdul Rahman bin Hurmuz, dll. Beliau belajar dan mengajar di Masjid Nabawi dan diantara  murid beliau adalah Imam Syafi’I, anak Khalifah Harun al-Rasyid yaitu al-Amin dan al-Ma’mun, Abdullah bin Wahb, Abdul Rahman bin al-Qasim, Abul Hasan al-Qurtubi, dll.

            Imam Malik telah menulis sebuah buku yang dinamakan al-Muwatta’. Buku ini mengandungi Hadith-hadith yang Shahih dan Mursal, fatwa sahabat dan pendapat para Tabiin juga mengandungi ijtihad beliau sendiri dalam bentuk Qiyas, Tafsir, dan Tarjih. Beliau menulis buku tersebut dalam masa empat puluh tahun, ini merupakan karya terbesar Imam Malikdan merupakan buku pertama dalam ditulis seumpamanya, setelah al-Qur’an dan Hadith. Al-Muwatta’ ingin dijadikan kitab dan mazhab resmi bagi Khalifah Abbasiah masa itu, tetapi Imam  Malik dengan tawadu’ menolak permintaan tersebut. Selain al-Muwatta’ kitab yang terkenal dalam mazhab Maliki adalah al-Mudawwanah yang ditulis oleh murid-murid beliaudan menjadi pegangan resmi pemerintah Umawiyyah di Andalus / Spain.

            Dasar-dasar Mazhab Maliki

            Al-qadli ‘iyadl dalam kitab al-Madrik berkata : “Malik mendahulukan Kitabullah menurut tertib samarnya, yakni mendahulukan Nash, kemudian yang Dhahir, kemudian yang Mafhum, sesudah itu beliau berpegang pada as-Sunnah. Dalam hal ini beliau mendahulukan yang mutawatir atas yang masyhur, yang masyhur atas yang ahad, sebagaimana beliau mendahulukan yang nash atas yang dhahir dan yang dhahir atas yang mafhum. Sesudah itu beliau berpegang pada ijma’ baru beliau berpegang pada Qiyas.

            Dalam hal ini Imam Malik tidak terlalu berpegang kepada Qiyasyang diberikan oleh Abu Hanafiah, dan terkadang-kadang beliau mendahulukan amalan ulama-ulama Madinah atas hadis Ahad.

c.     Mazhab al- Syafi’I (150-204 H.)

            Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’I, mempunyai nasab yang bertemu dengan Rasulullah yaitu dengan datuk beliau yang bernama Abd Manaf. Beliau lahir di Gazzah, Palestina, dan wafat di Mesir. Menimba ilmu di Mekkah sampai berumur 15 tahun dan diberikan izin berfatwa, kemudian beliau pindah ke Madinah berguru dengan Imam Malik sampai wafat, lalu mengembara ke Yaman untuk berguru dengan Yahya bin Hasan murid Imam al-Auza’I, beliau ditangkap pada tahun 184 H. karena didakwa menentang pemerintahan Abbasiyah dan dibawa ke Baghdad disinilah beliau bertemu dengan Imam Muhammad al-Syaibani dari Mazhab Hanafi, beliau terus mengembara untuk belajar dan mengembangkan ilmunya sampailah akhirnya beliau mukim di Mesir pada tahun 199 H dan meninggal pada tahun 204 H.

            Oleh karena Imam Syafi’I banyak mengembara dalam menuntut ilmu maka mazhabnya juga merupakan kombinasi dari beberapa madrasah / pemikiran dan kecenderungan beliaumengambil sikap tengah antara madrasah ahlul hadith (menolak ijtihad-qiyas) dan madrasah ahlul ra’yi (menolak hadis ahad) , beliau tidak menolak hadith ahad yang sahih, dan dan menolak hadith mursal yang bukan oleh kibar Tabiin dan beliau menggunakan metode Qiyas dalam ijtihadnya, ini berarti beliau seorang pro ahlul hadith dalam masa yang sama pro ahlul ra’yi.      

            Beliau adalah seorang ahli hadith yang banyak menghafal hadith dan dalam kaidah fiqihnya hadith adalah sebagai sharih, muqayyid, mufassil, dan mukhassis kepada al-Qur’an, sumber ketiga setelah al-Qur’an dan Sunnah adalah Ijma’ dan kemudian aqwal al-Sahabah. Dan yang terakhir adalah Qiyas dengan ini beliau menolak Istislah atau amal ahli madinah.

            Imam Syafi’I menulis buku tentang Usul fiqih, kitabnya ar-Risalah adalah kitab pertama yang membincangkan tentang ilmu itu, dan kitab kedua adalah kitab al-Umm yang khusus membicarakan tentang mazhabnya dalam fiqih. Diantara murid beliau yang tersebar di Iraqdan Mesir adalah: al-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, al-Hasan bin Muhammad al-Za’farani, Abu Ali Husein bin Ali al-Karabisi, Isma’il bin Yahya al-Muzni, Abu Ya’kub al-Buwaiti dan Imam Nawawi. Mazhab beliau pernah menjadi mazhab resmi di Mesir dan di Negara-negara Asia.

d.    Mazhab Hanbali (164-241 H.)

            Imam Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibani lahir di Baghdad dan mengembara ke Mekkah, Madinah, Syam, Yaman, dan lain-lain untuk menuntut ilmu dan berguru, dan diantara guru beliau adalah Imam Syafi’I. Beliau amat arif dalam ilmu sunnah, dan berjaya  menghasilkan sebuah Musnad yang mengandungi lebih daripada 40.000 hadith.

            Dalam mazhabnya beliau berpegang pada lima Usul (Kaidah/Methodology) : 1. Nash dari al-Qur’an dan Sunnah, 2. Fatwa sahabat, 3. Ijtihad sahabat yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah, 4. Mengambil Hadith Mursal dan Dha’if dan lebih diutamakan daripada Qiyas, khususnya dalam hal yang berkaitan fadhail a’mal (sunnat) 5. Qiyas sebagai langkah terakhir.

            Imam Ahmad tidak pernah menulis buku tentang mazhabnya, akan tetapi murid-murid beliau mengumpulkan pendapat-pendapatnya, maka lahirlah buku al-Jami’ oleh Ahmad bin Muhammad al-Khilal dan buku al-Mukhtasar al-Khirqi oleh Abul Qasim Umar bin Husein al-Khirqi dan Sharah buku tersebut oleh Ibn Qudamah al-Maqdisi yang dinamakan al-Mughni. Diantara pengikut beliau ialah Imam Ibn Taymiyah dan Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah.

            Mazhab-mazhab yang telah musnah, diantaranya :
a.       Mazhab al-Auzai
b.      Mazhab al-Zhahiry
c.       Mazhab al-Thabary
d.      Mazhab al-Laitsi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar