FEBI UIN Sunan Kalijaga Inisiasi Seminar Nasional Dan Pembentukan Konsorsium Keilmuan Prodi Di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis (Islam) Se-Indonesia
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
(FEBI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar Nasional Seminar Nasional Dan
Pembentukan Konsorsium Keilmuan Prodi Di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
(Islam) Se-Indonesia. Kegiatan ini berlangsung Selasa (16/05) bertempat
di University Hotel Yogyakarta. Acara ini melibatkan peserta yang
terdiri dari utusan anggota Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
(AFEBIS) dan utusan prodi-prodi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Islam) di
lingkungan PTAIN.
Dekan FEBI, Dr. Safiq Mahmadah Hanafi,
dalam sambutannya menyampaikan tujuan di adakan acara ini yaitu
terciptanya sinergi perguruan tinggi dan industri lembaga keuangan
syariah dalam peningkatan market share industri keuangan
syariah di Indonesia. Selain itu juga membangun SDM yang handal,
profesional, kreatif-inovatif dengan tetap menjamin kesesuaian syariah (sharia complience).
Dalam Seminar yang bertemakan ‘Sinergi
Perguruan Tinggi dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS), Outlook Ekonomi
Indonesia Tahun 2017 Peluang dan Tantangan Industri Keuangan Syariah di
Indonesia’, menghadirkan Narasumber yang ahli dibidangnya yaitu; Dr. Ir.
Paristiyanti Nurwardani, MP, Fikri Ausyah (OJK), Sukma Dwi
Priyadi (BSM) dan Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc (Dosen dan Praktisi
Perbankan Syariah)
Paristiyanti Nurwadani dalam uraiannya
menyampaikan bahwa Indonesia kini telah menjadi salah satu negara dengan
ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Menurut ADB,
pertumbuhan ekonomi di Indonesia mencapai 48% pada tahun 2016, dan
termasuk stabil dalam 5 tahun terakhir.Selain itu juga, menurut proyeksi
McKinsey Global Institute tahun 2012, Indonesia yang saat ini menempati
posisi ke-16 sebagai negara dengan ekonomi terbesar, pada tahun 2030
akan termasuk ke dalam jajaran 7 negara dengan ekonomi terbesar. Namun
demikian, penunjang keberhasilan Indonesia dalam mencapai stabilitas
ekonomi tidak terlepas dari peran pendidikan, termasuk pendidikan
tinggi.
Negara besar seperti Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 255 juta orang,sejumlah tantangan juga berada di depan kita. Pertama, bagaimana agar negara kita tidak terjebak dalam middle income trap.
Yang menjadi penyebab utamanya adalah perlambatan pertumbuhan
produktivitas, misal karena ketidakmampuan negara untuk bersaing dengan
tingkat upah rendah ataulow-skilled labour. Kedua,
adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di Era globalisasi/MEA saat ini,
berbagai jenis produk dan jasa yang ditawarkan oleh pasar khususnya
ekonomi syariah semakin meningkat. Permasalahan ekonomi syariah pun
semakin kompleks, menuntut manusia untuk terus berusaha mencari solusi
dalam memenuhi kebutuhannya.
“Berdasarkan data dalam sepuluh tahun
terakhir rata-rata pertumbuhan perbankan syariah adalah 33.2% sedangkan
market share industri keuangan syariah sebesar 5.13%”, tutur
Paristiyanti.
Anggito Abimanyu dalam pemaparanya
menyampaikan bahwa kondisi saat ini, sebanyak 85% SDM Bank Syariah
merupakan lulusan S1 dan dari sebanyak 95% dari lulusan S1 tersebut
berasal dari S1 non syariah. Hal besar inilah yang menjadi keprihatinan
dan PR besar bagi kita penggiat perbankan syariah. Momentum kebangkitan
ekonomi umat perlu dilakukan untuk membumikan ekonomi syariah, di
antaranya yaitu; Ekonomi dan perdagangan umat harus berjamaah, membangun
perdagangan dalam negeri yang islami secara berjamaah, dari hulu hingga
hilir, yaitu dari produsen hingga distributor. Selain hal tersebut
perlu juga didirikan Koperasi syariah. (Doni TW-Humas UIN Suka)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar